Apa Kata Pendaki Indonesia Tentang Gunung Carstensz Di Papua?

JAKARTA, KOMPAS.com – Anggapan Gunung Cartensz sebagai gunung yang membutuhkan biaya mahal untuk mendaki masih lekat di mata sejumlah pendaki Indonesia. Sejumlah pendaki dan operator pendakian yang menyediakan jasa pendakian ke Cartensz mengaku pendakian Gunung Cartensz masih sulit dijangkau.

Seperti, Leny Surya Martiana yang bekerja sebagai Manajer Keuangan Akutansi di PT. Surveyor Indonesia mengaku mengeluarkan biaya sekitar Rp 55 juta untuk mendaki Gunung Cartensz. Menurutnya, hal itu lantaran lokasi Gunung Cartensz yang sulit dikunjungi.

“Ada kultur-kultur masyarakat di sana yang belum teredukasi. Kalau sudah terorganisasi mungkin murah. Risiko-risiko yang tak terduga juga jadi alasan,” kata Leny yang bulan Mei berhasil menapaki puncak Gunung Cartensz bersama empat pendaki asalĀ Adventure & Rescue Team, Surveyor Indonesia kepada KompasTravel saat ditemui acara “Re-Opening Patagonia Outdoor Store & Sharing Experience Carstensz Pyramid” di Jakarta, Minggu (25/9/2016) malam.

Hal serupa diakui oleh anggota pencinta alam Korpala Universitas Hasanuddin, Baso Hamdani. Ia menyebutkan, mahalnya pendakian Gunung Cartensz karena belum adanya akses keterbukaan informasi dan publikasi kepada pendaki gunung.

KOMPAS/MUHAMMAD SUDARTO Puncak Carstensz Pegunungan Jayawijaya yang selalu bersalju

Banyak orang yang pikir termasuk saya bahwa untuk ke Cartensz lebih mahal. Perbandingan ke Nepal. Indikasinya, banyak teman-teman petualang kita yang lebih memilih ke Nepal untuk kemudian ke Himalaya daripada Carstensz di Papua,” ungkap Baso.

Baso membayangkan, biaya pendakian ke Gunung Carstensz berkisar sekitar 70-100 juta sekali perjalanan. Mahalnya biaya pendakian Gunung Carstensz juga diakui oleh pendaki gunung yang juga anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Alaska Aceh, Surya Dipa.

Saya setuju jika Carstensz dianggap sebagai gunung yang agak mahal. Namun menurut saya, itu juga wajar karena mungkin akses ke sana yang mungkin membutuhkan biaya besar selain untuk perlengkapan dan juga biaya porter,” jelas Dipa.

Pendaki gunung wanita yang juga anggota organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat, Ega Tiara mengatakan, pendakian Gunung Carstensz terbilang cukup mahal baginya yang masih berada di tingkat mahasiswa.

Dedi Alloy/Mapala UI Fandhi Ahmad dan Dedi Alloy di puncak Carstensz Pyramid usai memasang plakat peringatan Hartono Basuki.

“Menurut informasi juga medan Gunung Carstensz bervariasi vegetasinya. Butuh persiapan fisik dan manajemen perjalanan yang sedikit berbeda dengan gunung yang lainnya khususnya dengan seven summits (Indonesia) yang lainnya. Karena bedanya persiapan-persiaspan itu ya sedikit sebanyaknya berpengaruh dengan kesiapan finansial juga. Semoga suatu saat bisa ke Gunung Carstensz,” kata Ega.

Pendaki gunung sekaligus Marketing Staff di Indonesia Expeditions, Alvin Egie Perdana menjelaskan, banyak pendaki asal Indonesia yang melihat Gunung Carstensz hanya sebagai impian belaka. Hal itu karena mahalnya biaya pendakian ke Gunung Carstensz.

“Gunung Carstensz memang dapat julukan gunung yang mahal. Lebih mahal jadi lebih baik ke luar negeri. Yang membuat mahal itu, aksesnya sulit. Ke sana mesti pakai pesawat dan juga sampai sana harus sewa pesawat lagi,” jelas laki-laki anggota Mahasiswa Pencinta Alam Himpala Universitas Nasional Jakarta yang akrab disapa Egie ini.

Sementara, Pemilik Operator Pendakian Patagonia Adventure Travel, Fandhi Achmad atau akrab disapa Agi ini mengatakan, Gunung Carstensz memang terkendala dari segi keamanan. Hal itu menurut anggota menyebabkan, banyaknya pungutan liar di beberapa titik sebelum mendaki Gunung Carstensz.

KOMPAS/HARRY SUSILO Kamp terakhir tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia di Lembah Danau-Danau Pegunungan Jayawijaya, Papua, Rabu (21/4/2010). Kawasan di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan tempat menginap terakhir sebelum puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu (4.884 mdpl). Tim inti ekspedisi Tujuh Puncak Dunia berhasil mencapai puncak Ndugu-Ndugu pada Minggu (18/4/2010).

Biaya tak terduga itu di Gunung Carstensz bisa banyak. Kadang-kadang bisa dari 100 persen dari harga sebelumnya. Mereka di sana belum ada sistem penggajian porter, mereka belumĀ  teredukasi. Mereka bisa aja nuntut biaya lebih. Kalau gak dikasih dia mau pulang,” ujar Agi yang juga berstatus anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) kepada KompasTravel saat ditemui acara “Re-Opening Patagonia Outdoor Store & Sharing Experience Carstensz” Pyramid di Jakarta, Minggu (25/9/2016) malam.

Keberadaan Gunung Cartensz terbilang diperhitungkan dalam dunia pendakian gunung di dunia. Pasalnya, Gunung Cartensz termasuk ke dalam tujuh puncak tertinggi di lempengan benua, bersama Mount Everest (Asia), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Mckinley (Amerika Utara), dan Vinson Massif (Antartika).

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/27/071600727/apa.kata.pendaki.indonesia.tentang.gunung.carstensz.di.papua.

Leave a Reply