Bantul, Citra Baru Bumi Projotamansari

DAHULU, pariwisata Kabupaten Bantul identik dengan pantai. Namun, citra itu pelan-pelan berubah setelah muncul banyak daya tarik wisata baru yang populer berkat media sosial. Kini, cerita ihwal wisata Bantul antara lain diisi oleh hutan pinus, petualangan di sungai, dan bukit-bukit dengan pemandangan menawan.

Perjalanan menuju Bukit Panguk Kediwung di Desa Mangunan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (9/8/2016) pagi, menyajikan sensasi tak terlupakan. Jalanan menanjak dan hawa dingin menyambut pengunjung.

Di tengah perjalanan, kabut turun sangat pekat sehingga jarak pandang menjadi jauh berkurang. Padahal, tanjakan kian tajam dan jalan tak lagi beraspal mulus. Kewaspadaan mesti ditingkatkan.

Namun, rasa waswas itu sirna saat kaki mulai menapak di Bukit Panguk Kediwung. Di puncak bukit di Dusun Kediwung itu, pengunjung disuguhi pemandangan ”bukit di atas awan”. Apabila wisatawan datang pagi-pagi sekali, mereka masih bisa melihat matahari terbit.

Saat kabut menghilang dan matahari meninggi, jajaran bukit menghijau terhampar di depan mata. Di bagian bawah bukit, terlihat aliran Sungai Oya yang memisahkan Bantul dengan Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

”Bukit hijau itu sudah masuk wilayah Gunung Kidul,” kata pengelola obyek wisata Bukit Panguk Kediwung, Imam Muklis.

Di Bukit Panguk Kediwung, kebanyakan wisatawan datang untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan alam. Pengelola menyiapkan lima anjungan atau tempat berfoto yang dibuat di bibir bukit. ”Obyek wisata ini dibuka mulai pukul 05.00 dan ditutup saat azan Magrib (sekitar pukul 18.00),” ujar Imam.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Wisatawan menikmati suasana senja di Pantai Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).

Mulai dibuka pada pertengahan Mei 2016, Bukit Panguk Kediwung cepat populer karena banyak wisatawan yang mengunggah foto pemandangan tempat itu di media sosial. Pengelolaan obyek wisata itu dilakukan masyarakat setempat.

”Kalau hari-hari biasa, jumlah pengunjung sekitar 100 sampai 200 orang per hari. Namun, kalau hari Minggu, jumlah wisatawan bisa mencapai 500 hingga 800 orang,” kata Imam.

Menggeliat

Bukit Panguk Kediwung adalah contoh terbaru geliat wisata di Kecamatan Dlingo. Sejak beberapa tahun terakhir, aktivitas pariwisata di kecamatan itu menggeliat seiring banyaknya daya tarik wisata baru yang menyedot perhatian wisatawan. Daya tarik utama di Dlingo adalah Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus Mangunan, tetapi kemudian muncul banyak tempat wisata baru.

Selain Bukit Panguk Kediwung, daya tarik wisata baru di Dlingo antara lain Gua Gajah, Tebing Watu Mabur (Batu Terbang), Puncak Becici, Air Terjun Lepo, Bukit Mojo, dan Desa Wisata Kaki Langit.

Berbagai daya tarik wisata di Dlingo ikut memengaruhi dinamika pariwisata Bantul sehingga aktivitas wisata tak lagi memusat di pantai-pantai di pesisir selatan kabupaten dengan julukan Bumi Projotamansari ini.

Perkembangan wisata Bantul tak hanya dipengaruhi oleh berbagai daya tarik di Dlingo yang berlokasi di sisi timur kabupaten itu. Di wilayah barat di Kecamatan Sedayu ada Karst Tubing yang dua bulan terakhir banyak dibicarakan netizen.

Pengunjung bisa menyusuri Sungai Konteng di Dusun Surobayan, Desa Argomulyo, dengan bantuan ban sembari menikmati pemandangan batuan karst di sekitarnya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pengunjung berwisata di Hutan Pinus Mangunan, Desa Mangunan, Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (12/8/2016).

”Obyek wisata ini mulai dibuka awal Juni lalu. Sekarang jumlah pengunjung sekitar 100 orang pada hari biasa dan 300 orang saat akhir pekan,” kata pengelola Karst Tubing, Arif Budi Sayoga.

Arif mengatakan, meski baru dua bulan, obyek wisata itu mulai berdampak positif bagi warga. Selain memberi pemasukan bagi warga yang ikut mengelola Karst Tubing, kehadiran obyek wisata itu juga dimanfaatkan warga untuk membuka warung. ”Pemasukan lain masyarakat juga didapat dari parkir kendaraan pengunjung,” ujarnya.

Meskipun banyak muncul daya tarik wisata baru, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul Bambang Legowo, sejumlah pantai di pesisir selatan masih menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) Bantul.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bantul, ada delapan obyek wisata di kabupaten itu yang menyumbang PAD dan empat di antaranya merupakan pantai. Kedelapan obyek wisata itu adalah Pantai Parangtritis, Pantai Samas, Pantai Pandansimo, Pantai Kuwaru, Gua Cemara, Gua Selarong, Gua Cerme, dan kolam renang Tirta Tamansari.

Selama 2012-2015, pendapatan di delapan obyek wisata itu naik tiap tahun. Pada 2012, pendapatan dari tempat-tempat wisata itu hanya Rp 8,3 miliar, pada 2013 menjadi Rp 8,5 miliar, pada 2014 menjadi Rp 9,6 miliar, dan pada 2015 mencapai Rp 11,1 miliar.

Namun, kunjungan wisatawan di delapan obyek itu sempat turun dari 2,35 juta orang pada 2012 menjadi 2,15 juta tahun 2013. Pada 2014, kunjungan wisatawan naik menjadi 2,29 juta orang, lalu terus bertambah menjadi 2,52 juta orang pada 2015.

Dari delapan obyek wisata itu, Pantai Parangtritis masih mendominasi. Pada 2015, misalnya, sekitar 78 persen dari total kunjungan wisatawan di delapan obyek wisata itu ke Pantai Parangtritis. Retribusi Parangtritis menyumbang 85 persen total pendapatan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pengunjung berpose untuk difoto oleh rekannya di Bukit Panguk Kediwung, Desa Mangunan, Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (12/8/2016).

Kebanyakan daya tarik wisata baru di Bantul memang belum menyumbang pendapatan secara langsung ke kas Pemkab Bantul karena pengunjung belum dikenai retribusi pariwisata.

Meskipun begitu, kata Bambang, pemkab tetap mendorong pengembangan berbagai daya tarik itu karena bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Bantul juga memiliki beberapa sentra kerajinan yang bisa menjadi alternatif wisata, misalnya sentra gerabah di Kasongan, pusat kerajinan kulit di Manding, sentra kerajinan kayu di Krebet, dan kampung perajin batik di Giriloyo.

Meski wisata Bantul tak ditopang angkutan umum yang memadai, Bambang yakin hal itu tak akan menjadi masalah serius karena kebanyakan wisatawan lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. (Haris Firdaus)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Agustus 2016, di halaman 26 dengan judul “Citra Baru Bumi Projotamansari”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/08/30/192100727/Bantul.Citra.Baru.Bumi.Projotamansari

Leave a Reply