Bedolob, Pengadilan Tuhan Suku Dayak Agabag

NUNUKAN, KOMPAS.com – Di tengah kepercayaan terhadap kekuatan roh nenek moyangnya, Suku Dayak Agabak di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara memiliki tradisi unik dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara mereka.

Suku Dayak yang mendiami wilayah perbatasan ini memiliki tradisi Bedolob. Bedolob adalah sebuah tradisi pengadilan Tuhan di Suku Dayak Agabak yang masih dipelihara hingga saat ini. Bedolob merupakan langkah terakhir yang diambil untuk penyelesaian sengketa yang terjadi di antara sesama warga dayak Agabak jika penyelesaian secara musyawarah adat tidak menghasilkan solusi bagi kedua belah pihak.

“Bedolob itu adalah hakim tertingginya Dayak Agabag ketika ada persoalan yang tidak bisa diurus secara kekeluargaan atau adat,” ujar Baji Misak, salah satu tokoh muda Suku Dayak Adabag.

Tingginya sanksi sosial serta efek psikologis dalam tradisi Bedolob membuat warga Dayak Agabag tidak gegabah menyelesaikan sebuah permasalahan dengan tradisi tersebut. Kasus yang biasanya diselesaikan dengan tradisi Bedolob beragam, dari kasus pencurian, perselingkuhan, sengketa tanah, hingga pembunuhan.

Biasanya tetua adat akan berusaha menyelesaikan perselisihan di antara warganya dengan cara musyawarah secara kekeluargaan maupun secara adat. Karena untuk menggelar ritual Bedolob, selain membutuhkan biaya besar untuk menyediakan tebusan bagi yang kalah dalam pelaksanaan ritual.

Kedua belah pihak harus menyediakan tebusan yang biasanya berupa guci kuno yang harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah atau berupa hewan ternak seperti babi sesuai dengan kesepakatan sebelum ritual dimulai.

“Bagi yang kalah dalam Bedolob ya harus menanggung konsekuensi, membayar tebusan yang telah disepakati,” katanya.

Untuk menggelar upacara Bedolob merupakan hak prerogatif dari tetua adat. Berhasil tidaknya pelaksanaan Bedolob sangat bergantung kepada tetua adat.

Untuk menggelar Bedolob selain membutuhkan tempat pelaksanaan yang mengharuskan di sebuah sungai, tetua adat juga harus mempersiapkan persyaratan seperti kayu rambutan hutan atau kalambuku sebagai penanda lokasi pelaku Bedolob serta persyaratan upacara pemanggilan roh leluhur.

Untuk pemanggilan roh leluhur dibutuhkan upacara serta peralatan seperti beras kuning, jantung pisang, kain kuning, kain merah dan pohon kalambuku. Dalam upacara pemanggilan roh, semua roh nenek moyang dari darat, dari laut dipanggil untuk menyaksikan jalannya prosesi Bedolob.

Tetapi inti dari upacara pemanggilan roh adalah kita minta izin kepada Tuhan untuk mengadili keduanya. “Upacara pemanggilan roh dengan cara jantung pisang dipukul-pukul ke tanah sekitar 5 menit. Setelah dirasa leluhur kita sudah hadir,” kata Bajik Misak.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/08/28/211600727/Bedolob.Pengadilan.Tuhan.Suku.Dayak.Agabag

Leave a Reply