Bisnis “Surfing” Di Bali Menjanjikan, Tetapi…

DENPASAR, KOMPAS.com – Peminat wisata bahari di Bali cukup banyak, baik dari kalangan wisatawan domestik maupun internasional. Provinsi Bali yang berupa pulau memiliki kawasan laut yang indah dan asyik untuk surfing atau selancar.

Surfer dan pelatih handal bernama Irawan atau lebih dikenal dengan panggilan Piping menyayangkan pemerintah daerah tidak memanfaatkan lahan tersebut untuk pendapatan daerah. Selain pemerintah daerah memiliki tambahan pendapatan, para surfer yang memiliki bisnis di sektor pariwisata ini dapat tertata dan merasa diperhatikan dengan baik.

“Bisnis surfing di Bali itu menjanjikan. Sangat potensial. Seperti penyewaan papan surfing maupun school surf. Itu bisa menambah pendapatan daerah loh, sebenarnya ada pajak yang harus dibayarkan, tapi belum memaksimalkan potensi yang ada,” kata Piping, Denpasar, Bali, Minggu (2/9/2016).

Separuh dari kawasan perairan di Bali yaitu bagian selatan sangat disukai untuk dijadikan lokasi surfing. Dari perairan Kabupaten Jembrana yang lokasinya di Bali bagian barat hingga di perairan Kabupaten Karangasem yang terletak di Bali bagian timur, sangat potensial dikelola dengan baik dan saling memberikan dukungan baik otoritas pemerintah daerah dan pelaku pariwisata.

Sepanjang pantai selatan dari Kabupaten Jembrana hingga Kabupaten Karangasem terdapat 200 tiitk yang disukai wisatawan untuk surfing. Dari 200 titik terdapat beberapa penyewaan papan surfing dan school surf yang saat ini sangat berkembang dan maju.

Sewa papan surfing per jam hanya Rp 50.000 sementara kalau sekolah surfing per dua jam bisa bertaraf sampai Rp 3,5 juta.

“Bukan kita minta perhatian, tapi kita memberitahukan pengelolaan market surfing di Bali. Aturan main belum dibuat oleh Pemda. Ini sangat potensial sekali,” tegasnya.

Piping juga menjelaskan bahwa surfing merupakan kekuatan di sektor pariwisata. Hal ini terbukti saat peristiwa Bom Bali 1 pada 12 Oktober 2002 lalu yang meluluhlantakkan sektor pariwisata di Bali. Saat itu, sebagian besar negara melarang warganya berkunjung ke Bali. Sektor pariwisata terganggu, tetapi menurut Piping, dunia surfing tetap berjalan.

“Ketika Bom Bali 1, pariwisata sempat mati. Banyak wisatawan dilarang ke Bali. Tapi, pecinta surfing asal beberapa negara, nekat datang ke Bali melalui Singapura, mereka datang surfing dan memberikan dukungan kepada Bali. Luar biasa kekuatannya,” ujarnya.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Wisatawan akan surfing di Pantai Kuta, Bali

Bagi beberapa wisatawan, surfing di Bali dipandang mengasyikkan. Contohnya Ariska, wisatawan asal Bogor.

“Saya kedua kalinya main surfing di sini. Dulu saya takut, diajarin dan dituntun saat main, jadinya senang. Jadi kalau ke Bali ya coba main surfing,” kata Ariska, ditemui usai surfing di Pantai Kuta.

“Saya suka Bali. Saya suka main (surfing) di sini, biasanya saya di Tulamben (Karangasem),” kata Andrew asal Australia yang sudah puluhan kali datang ke Bali.

“Murah kok cuma Rp 50 ribu per jam. Kalau sewa lebih lama malah diberi bonus waktu,” kata Sofian, wisatawan asal Bogor.

Sementara bisnis sewa papan surfing juga cukup menjanjikan. Misalnya sehari penyewa bisa menyewakan dua sampai lima papan, bisa jadi lebih dari itu jika musim liburan.

“Kalau hati biasa sih paling satu, dua atau tiga. Pernah sehari lima papan disewa. Tapi kalau ramai liburan ya bisa lebih,” kata Dek Ar, pemilik papan surfing di Pantai Kuta.

Lokasi perairan Bali yang di sukai wisatawan bermain surfing di antaranya di Pantai Medewi, Pantai Legian, Pantai Kuta, Pantai Nusa Dua, Pantai Jimbaran, Pantai Tulamben, Pantai Nusa Penida dan masih banyak lagi titik-titik yang ombaknya bagus untuk surfing

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/04/130400027/bisnis.surfing.di.bali.menjanjikan.tetapi.

Leave a Reply