Di Sini, Sate Maranggi Disajikan “Refill”

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai salah satu kuliner khas Purwakarta, Sate Maranggi punya banyak penggemar. Penjual Sate Maranggi bisa ditemukan hampir di setiap sudut Purwakarta, termasuk Kecamatan Plered yang terkenal sebagai sentra pembuatan keramik.

Tak hanya satu, sedikitnya ada 20 penjual Sate Maranggi yang menempati satu lahan pujasera di seberang Kantor Kecamatan Plered. Lokasinya persis di sebelah Stasiun KA Plered. Beberapa waktu lalu KompasTravel mampir ke tempat ini untuk menyantap Sate Maranggi yang terkenal nikmat. 

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Saat makan siang seperti ini, beberapa penjual Sate Maranggi tampak ramai pembeli. KompasTravel mencoba salah satunya, Sate Maranggi Mang Cecep.

Bangku panjang disusun berbentuk U, dengan si penjual berada di tengah. Di hadapannya terdapat panggangan sate. Pada meja yang juga berbentuk U, terdapat deretan nasi putih berbungkus daun pisang serta bumbu-bumbu.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Bangku panjang disusun berbentuk U, dengan si penjual berada di tengah. Di hadapannya terdapat panggangan sate. Pada meja yang juga berbentuk U, terdapat deretan nasi putih berbungkus daun pisang serta bumbu-bumbu.

Di sini, kita harus meracik sendiri bumbu Sate Maranggi yang terdiri dari kecap, garam, bawang merah, serta cabai rawit. Tingkat gurih dan pedas dari bumbu, kita sendiri yang menentukan. 

Di sini, pembeli tak perlu berbasa-basi dengan penjual. Kita tinggal duduk dan menunggu sate selesai dipanggang. Tak sampai lima menit, beberapa tusuk sate terhidang di depan mata. Penjual kemudian memberikan piring dan mempersilakan kita mengambil nasi.

Nasi berbungkus daun pisang pun dibuka. Pertama, saya ambil tiga tusuk sate saja. Kecap, garam, dan cabai rawit pun diaduk sendiri sebagai bumbu sate. Rasanya benar-benar nikmat! 

Baru selesai menyantap dua tusuk sate, penjual kembali menaruh beberapa tusuk sate ke piring di hadapan mata. Kali ini dia menaruhnya agak lebih banyak, sekitar 15 tusuk. Sontak, saya mengambil lima tusuk. 

Daging sapi pada Sate Maranggi di tempat ini sengaja dipotong agak lebih kecil. Satu tusuk sate untuk satu suap nasi. Si penjual tetap memanggang sate dan menyajikannya di piring. Sepertinya dia tidak tega melihat pembeli kehabisan sate.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Pembeli harus meracik sendiri bumbu Sate Maranggi yang terdiri dari kecap, garam, bawang merah, serta cabai rawit. Tingkat gurih dan pedas dari bumbu, kita sendiri yang menentukan.

Akibat Sate Maranggi refill seperti ini, saya pun tak sadar telah menghabiskan puluhan tusuk sate. Ketika selesai makan, piring diberikan kepada penjual untuk dihitung tusuk satenya.

Rupanya Sate Maranggi di tempat ini dijual per tusuk, yakni Rp 1.500. Saya sendiri menghabiskan 15 tusuk. Total, makan Sate Maranggi untuk dua orang dengan masing-masing 15 tusuk harganya Rp 54.000. Sudah termasuk dua bungkus nasi dan es teh manis. Cukup murah untuk Sate Maranggi yang bisa dinikmati sepuasnya bukan?

Asyiknya lagi, para penjual Sate Maranggi di tempat ini buka hingga dini hari. Biasanya mereka punya dua shift yakni pagi dan malam. KompasTravel juga sempat menikmati Sate Maranggi sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Mayoritas penjual Sate Maranggi berjualan hingga pukul 04.00 WIB.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/08/23/112200327/Di.Sini.Sate.Maranggi.Disajikan.Refill.

Leave a Reply