Dinamika Kota “Pulau Dewata”

SUASANA pantai matahari terbit di Pantai Sanur, Kota Denpasar, Bali, tak seramai wisatawan di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, saat melepas matahari terbenam di ufuk barat. Namun, panorama munculnya matahari di Sanur tersebut tak kalah indah dari panorama tenggelamnya matahari di Kuta.

Begitu pula hiruk pikuk Denpasar sebagai ibu kota Provinsi Bali meramaikan pilihan wisatawan. Ragam kuliner menu lokal, Nusantara, hingga masakan India adalah Denpasar tempatnya.

Sightseeing Denpasar dengan slogan The Heart Of Bali merupakan andalan Kota Denpasar membangun identitasnya. Sightseeing Denpasar dibangun dilandasai semangat untuk mengekspresikan karisma Kota Denpasar sebagai kota wisata budaya yang dinamis sekaligus sebagai denyut nadi Pulau Bali.

Denpasar juga merupakan kota wisata budaya yang dinamis sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan, informasi, termasuk juga sebagai pusat kajian sejarah, seni, dan budaya. Multikultural ciri dari perkotaan memperkuat toleransi masyarakat dalam pembauran.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Wisatawan mengabadikan pesona matahari terbit dari balik Gunung Rinjani di Pulau Lombok yang terlihat dari Pantai Karang Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (16/8/2016).

Bicara pariwisata Denpasar, Sanur menjadi denyutnya. Wisata Sanur berkembang, tetapi tetap menjaga budaya, adat, dan lingkungan hidup. Kesadaran masyarakatnya menjadi tulang punggung uniknya wisata Sanur melalui Yayasan Pembangunan Sanur. Yayasan yang dimotori tokoh Sanur ini memotivasi warganya untuk juga mendukung pariwisata di daerahnya.

Selain Sanur, Denpasar masih memiliki segudang panorama, termasuk sebagai kota pusaka. Hutan mangrove, situs cagar budaya, legenda jalan Gajah Mada, Patung Catur Muka di nol kilometer, dan lapangan I Gusti Ngurah Made Agung lokasi perang puputan. Museum Bali dan Museum Monumen Perjuangan Rakyat Bali tak kalah menarik untuk dieksplorasi.

Jika Gianyar punya Pasar Sukawati, Denpasar punya Pasar Kumbasari. Sayangnya, pasar yang diunggulkan sebagai pusat kain khas Bali seperti endek atau songket ini belum tergarap maksimal.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar I Wayan Gunawan mengatakan, potensi wisata Denpasar memang belum maksimal dieksplorasi. Kualitas sumber daya manusianya juga masih terus ditingkatkan melalui uji kompetensi.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Hutan mangrove di Denpasar, Bali, ini selain menjadi kawasan konservasi juga menjadi tempat wisata ekologi.

Saat ini sumber daya manusia pendukung pariwisata tercatat sekitar 7.000 orang. Namun, hanya 1.000-an orang saja yang memiliki sertifikasi dari lembaga sertifikasi profesi di Denpasar.

Urbanisasi mengalir dari penjuru Bali dan luar Bali. Denpasar juga masih seksi sebagai sasaran investasi, baik pemodal asing maupun domestik. Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Bali mencatat, Denpasar tetap diminati untuk investasi setelah Badung, nilainya sekitar Rp 15 triliun pada 2015.

Menggeliat

Pembangunan pun menggeliat di berbagai sudut kota, mulai akomodasi wisata, mal, kuliner, hingga menjamurnya sekolah-sekolah pariwisata yang mencetak lulusan berkualitas. Tak heran jika Denpasar menyumbang pertumbuhan ekonomi Bali stabil sekitar 6,5 persen.

Berdasarkan letak geografis, Denpasar memang sangat strategis sebagai jantung Bali. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Badung, di sebelah timur Kabupaten Gianyar, di sebelah selatan Selat Badung, dan di sebelah barat juga dengan Kabupaten Badung. Baik Badung maupun Gianyar sama-sama unggul dalam pariwisata.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Kawasan Pantai Sanur, Denpasar, Bali, terlihat dari udara, Sabtu (20/8/2016). Meskipun termasuk kawasan wisata, Pantai Sanur relatif lebih tenang dibandingkan dengan wisata pantai lain di Pulau Bali.

Menurut pengamat pariwisata yang juga Dekan Fakultas Pariwisata Universita Udayana I Made Sendra, Denpasar sebagai perkotaan dan pusat pemerintahan pastinya lebih dinamis.

Apalagi, dua kabupaten yang berbatasan dengan Denpasar merupakan wilayah pariwisata yang paling terkenal di Bali. Teknologi, lanjutnya, diharapkan mampu menunjang wisata dan bisnis penunjangnya.

Bisnis juga pasti lebih maju karena ketersediaan sumber daya ada dengan kualitas beragam. Dengan dinamisnya Denpasar, Sendra menilai, zonasi menjadi penting dan ini belum maksimal diwujudkan. Ia khawatir sejumlah tempat tidak sesuai dan bisa menggusur daerah berpotensi wisata sejarah karena kebutuhan ekonomi dan desakan penduduk.

Di era digital, anak muda Denpasar pun makin kreatif dan berinovasi. Beberapa karya ini sebagai semangat mempermudah calon wisatawan mengenal Denpasar seperti aplikasi pencari kebutuhan dari Allbenear, animasi-animasi yang memunculkan karakter Bali. Pemerintah setempat mendokumentasikan cagar budaya menunjang konsep smart city di bidang pariwisata.

”Banyak memang informasi yang tersedia dan bisa diunduh melalui telepon pintar. Karenanya, produk penyedia jasa informasi segala ada ini sebagai pembuktian anak muda Denpasar kreatif dan turut mendukung pariwisata Bali,” kata I Made Arya Bratha. pencetus Allbenear.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Patung Catur Muka di kawasan nol kilometer Denpasar, Bali, Jumat (19/8/2016).

Persoalan keamanan penting bagi wisatawan. Denpasar cukup nyaman bagi pelancong berkeliling kota. Kriminalitas yang mengganggu turis hampir tak ada dibandingkan dengan wilayah Kuta, Kabupaten Badung.

Berwarnanya Denpasar memperkuat Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Meski dinilai masih lemah di bidang transportasi. Sendra mengatakan, Pemerintah Kota Denpasar harus mampu menyediakan kantong-kantong transportasi layak wisata berkeliling atau city tour yang khas.

Ini juga penting sebagai ikon wisata. Contohnya Thailand yang menyediakan transportasi khusus yang khas bak kereta wisatawan untuk keliling kota.

Pekan lalu, Pemerintah Kota Denpasar membuka ruang untuk masyarakat seni dan budaya, Denpasar Art Space, di lantai 2 Gedung Merdeka, Denpasar. Di lantai 1 gedung ini tersedia Tourist Information. Lokasi ini dilahirkan sebagai upaya memunculkan tempat edukasi, apresiasi, aktivitas, dan kreativitas seni budaya.

Harapannya, lokasi ini juga menyokong perkembangan pesatnya pariwisata. Tentu saja bisa mengimbas kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Warga dan wisatawan mengikuti yoga bersama yang rutin diadakan setiap pagi di Pantai Karang Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (19/8/2016). Selain menjadi tempat menikmati matahari terbit, kawasan pesisir Sanur juga menjadi favorit wisatawan untuk berolahraga pagi, seperti lari, bersepeda, dan yoga.

Tak hanya itu, Pemkot tengah gencar mempersolek warna-warni wajah kota serta ruang-ruang publik yang nyaman dan aman. Air mancur menari, bermusik dan bercahaya warna-warni menghiasi ruang-ruang tersebut, seperti di lapangan Lumintang, air mancur Catur Muka.

Pemkot meyakini tak bisa berjalan sendiri. Perlu peran serta semua lapisan untuk memperkenalkan Denpasar sebagai kota heritage, kota budaya, dan kota kreatif yang membuat kota ini kian menarik dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara, termasuk para pencinta seni dari seluruh penjuru dunia. (AYU SULISTYOWATI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Agustus 2016, di halaman 22 dengan judul “Dinamika Kota ”Pulau Dewata”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/01/130400127/Dinamika.Kota.Pulau.Dewata.

Leave a Reply