Dinosaurus, Jejak Zaman Purba, Dan Kedai Kopi Belitung Yang Melegenda

KOMPAS.com—Masih ingat film Jurrasic Park? Terbayang kekacauan gara-gara dinosaurus menembus pagar pengaman? Bagaimana bila jejak zaman periode dinosaurus juga bisa ditemukan di Indonesia?

Adegan yang menampilkan binatang purba tersebut muncul lagi dalam film Jurrasic World pada 2015. Padahal, sosok dinosaurus sejauh ini hanya rekaan bermodalkan temuan fosil.

Rekayasa teknologi-lah yang membuat tampilan nyata dari hewan purba itu. Namun, film-film tersebut bukan satu-satunya jejak zaman purba yang bisa ditonton orang-orang sekarang.

Nah, di Indonesia, jejak zaman purba punya penampakan lain yang bisa didatangi wisatawan. Wujudnya adalah batuan granit raksasa di kawasan Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi, keduanya di Provinsi Bangka Belitung.

Seperti dilansir Harian Kompas, Rabu (27/7/2016), usia batu-batu tersebut hampir sama dengan umur fosil Nyasasaurus parringtoni—dinosaurus pertama di dunia. Fosil yang ditemukan di Tanzania itu dinyatakan berusia 240 juta tahun.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Pulau Lengkuas yang memiliki mercusuar setinggi 62 meter dengan ratusan anak tangga. Diatasnya wisatawan dapat melihat berbagai pulau kecil dan birunya laut Belitung.

Bebatuan tersebut bukan muncul tiba-tiba, tak juga turun begitu saja dari langit. Proses alam dan gempa yang berulang selama jutaan tahun telah memecah dan mengangkat batuan tersebut ke permukaan bumi.

Jika Anda pernah menonton film Laskar Pelangi, keindahan batuan granit raksasa di bibir pantai Tanjung Kelayang menjadi salah satu latar yang muncul.

Penampakan batuan itu semakin eksotis saat dilihat dari puncak mercusuar di Pulau Lengkuas. Coba saja bila ke sana.

Kedai kopi yang melegenda

Masa lalu tidak hanya mewariskan granit kepada Belitung. Ada juga cerita soal warung kopi yang melegenda di sini.

Dari generasi ke generasi, masyarakat Belitung dikenal menyukai minuman kopi. “Tiada hari tanpa kopi”, begitulah kesan ketika melihat sudut-sudut kota Belitung dan kedai kopi yang bertebaran di sana.

Mendatangi kedai kopi telah menjadi rutinitas sehari-hari bagi masyarakat Belitung. Dari sekadar berbincang sampai membahas topik serius, biasa mereka lakukan di sini berteman segelas minuman kopi hitam.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Penikmat kopi tengah berbincang di depan Warung Kopi Ake, Belitung, Senin (7/3/2016) sore.

Salah satu kedai kopi yang melegenda adalah Warung Kopi Ake. Sang pemilik, Akiong, mengaku setiap hari lebih dari 50 orang datang ke kedainya. Bahkan, kata dia, tak jarang para pejabat menggelar rapat sambil menikmati kopi di kedainya.

“Dari dulu sejak zaman kakek, Warung Ake memang tempatnya orang-orang seperti guru-guru sampai pejabat. Dulu tak ada koran, jadi cerita-cerita apa saja tentang politik,” kata Ake seperti dikutip Kompas.com, Selasa (15/3/2016).

Kedai lain yang juga melegenda di Belitung adalah Warung Kopi Kong Djie di persimpangan Jalan Kemuning dan Jalan Siburik Barat.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Warung Kopi Kong Djie yang terletak di persimpangan jalan Siburik Barat dan Jalan Kemuning, Tanjung Pandan, Belitung.

Pemerhati sejarah dan budaya Belitung, Salim Yan Albert Hoogstad, mengatakan, kebiasaan minum kopi di Belitung sudah ada sejak zaman kolonial.

Kebiasaan minum kopi bersama di kedai juga datang dari latar belakang penduduk yang bekerja di pertambangan pada waktu itu. Sepulang kerja di tambang, para pekerja biasa berkumpul di kedai kopi.

“Umumnya kerja tambang selesai sore hari. Jadi untuk menghilangkan rasa penat mereka berkumpul, silaturahmi sambil ngopi,” ujar Salim.

Dari timah ke pariwisata

Cerita soal pekerja tambang yang biasa berkumpul di kedai kopi meluncur pula dari penuturan pemilik Warkop Milenium, Markus Joapinto.

“Sampai pada titik majunya perusahaan penambang timah dahulu, semakin terkenal pula budaya minum kopi,” ujar Markus seperti dilansir Kompas.com, Sabtu (12/3/2016). (Baca : “Sunrise”, Jazz, dan Bromo )

Dahulu, timah menghidupi Belitung selama bertahun-tahun. Ketika tambang timah mulai redup, kini pesona Belitung mencuat menjadi sumber pendapatan baru dari sektor pariwisata.

Tanjung Kelayang, salah satunya. Kawasan ini merupakan pantai berpasir putih nan lembut yang terletak di utara Pulau Belitung. Di pantai ini juga, batuan granit raksasa bertebaran.

Facebook – Laskar Pelangi Mahar (Verry Yamarno-kiri) bersama Ikal (Zulfany) saat memerankan film Laskar Pelangi.

Film Laskar Pelangi yang meluncur pada 2009 menjadi tambahan magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Belitung. Saat film itu meledak, Belitung semakin dilirik para pelancong, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Momentum pariwisata Belitung itu bukan saat novelnya (terbit), tetapi saat film Laskar Pelangi (tayang). Kunjungan wisatawan meningkat 18 kali lipat,” tutur Andrea Hirata, si penulis novel yang diadaptasi menjadi film itu, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (14/3/2015).

Kabar baiknya, Belitung sekarang masuk pula dalam daftar destinasi prioritas yang dicanangkan pemerintah.

Merujuk data Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Belitung terus mengalami kenaikan sejak 2011 sampai 2015.

KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Pantai Tanjung Tinggi di Belitung.

Tercatat pada 2012, terjadi peningkatan wisatawan ke Belitung dari 83.893 orang pada 2011 menjadi 111.613 orang. Hal itu terjadi pula pada 2014, jumlah wisatawan dari 131.542 orang pada 2013 menjadi 199.823 wisatawan.

Tren positif terus berlanjut sampai pada akhir 2015, tercatat jumlah pengunjung mencapai 251.440 orang.

Infrastuktur

Pemerintah tak tinggal diam untuk mempertajam sektor pariwisata di kawasan Belitung. Langkah pertama pada 2016 adalah menjadikannya kawasan ekonomi khusus (KEK).

“Perwujudan KEK Pariwisata akan menjadikan pengelolaan Tanjung Kelayang dalam manajemen tunggal,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya seperti dilansir Harian Kompas, Senin (22/2/2016).

Bupati Belitung Sahani Saleh, Gubernur Bangka Belitung Rustam Effendi, Menteri Perhubungan Budi Karya, dan Menteri Pariwisata Arief Yahya saat acara peletakan batu pertama Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Kelayang, Belitung Barat, Bangka Belitung, Jumat (2/9/2016).

Penetapan KEK itu, lanjut Arief, diharapkan meningkatkan jumlah wisatawan asing ke Tanjung Kelayang dari 10.000 orang pada 2014 menjadi 500.000 orang pada 2019, atau naik 50 kali lipat dalam lima tahun.

Pulau Belitung yang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini masuk ke dua wilayah administratif, yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Tantangan utama di pulau ini adalah ketersediaan listrik.

Arief berharap dengan uji coba penambahan daya melalui PLTU dapat berhasil, untuk menambah pasokan arus listrik sebesar 32 Megawatt.

Selain itu, ungkap Arief, Pemerintah berencana membangun pelabuhan dan marina di kawasan Belitung. Selain untuk kebutuhan logistik, keduanya juga diperlukan untuk menunjang sektor pariwisata.

“Kita akan resmikan marina untuk kapal layar, (di lokasi yang) tadinya bekas tambang,” kata Arief.

Terkini, pemerintah sudah membenahi akses jalan raya.  Saat ini jalan raya di Belitung sudah mulus tanpa lubang. Karena tidak macet dan jalannya mulus, untuk mencapai tempat wisata di Belitung cukup cepat.

Ruas jalan di Belitung, Bangka Belitung. Gambar diambil Sabtu, (3/9/2016).

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman mengatakan, kemudahan akses untuk menjangkau suatu destinasi adalah salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan destinasi.

Akses akan menjadi pendukung utama dari potensi keindahan atau kekayaan alam setempat.

“Akses itu penting. Jika di suatu destinasi penuh dan (jalanan) macet, tentu membuat wisatawan tidak mau kembali. Maka dari itu, akan dibuatkan jalan yang lebar agar wisatawan mempunyai akses dan nyaman,” ujar Dadang Rizki Ratman saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (2/5/2016).

Khusus Tanjung Kelayang, beragam program pengembangan infrastruktur dan akses sudah termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2014-2019. Mestinya, tak akan ada lagi cerita buram soal infrastruktur di sana.

Bagi Anda yang tergoda pesona dalam penampakan film Laskar Pelangi atau ingin melihat sendiri pesona kekuatan alam dalam wujud batu-batu granit raksasa, jangan lupa untuk berbagi cerita lewat akun Twitter dan Instagram. Sebutkan saja di dalamnya akun @ceritadestinasi.

Bagi pengguna Facebook, cerita Anda juga bisa dibagikan lewat fan-page Cerita Destinasi. Baik lewat Twitter, Instagram, maupun Facebook, terakan juga tanda pagar (tagar) #ceritadestinasi sebagai penanda.

Barangkali saja, cerita Anda akan turut menjadi undangan dan ajakan untuk menyambangi pesona wisata Indonesia ini.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/16/193100527/dinosaurus.jejak.zaman.purba.dan.kedai.kopi.belitung.yang.melegenda

Leave a Reply