Ditemukan 8.239 Lontar Bali Yang Terlantar Dan Rusak

DENPASAR, KOMPAS.com – Tim Penyuluh Bahasa Bali mendata ribuan Lontar dengan kondisi terlantar dan rusak. Kini telah teridentifikasi berjumlah 8.239 Lontar yang perlu diselamatkan yang tersebar di seluruh Bali.

Lontar Bali adalah serupa buku yang terbuat dari daun pohon Tal atau pohon Rontal sebagai media tulis untuk menumpahkan semua hal pada masa lalu Bali oleh sebagian besar tetua Bali pada zamannya.

Isinya mengandung ajaran spiritual, filsafat, pengobatan, perhitungan hari bahkan hingga catatan utang piutang pada zaman dulu.

Dari jumlah yang didata yaitu 8.370 lontar, rinciannya adalah 5.804 yang dikategorikan terawat tapi kondisi lontar masih bisa dibaca namun memerlukan konservasi lanjutan.

Sementara sisanya 2.562 lontar kategori kurang terawat dan rusak, seperti lontarnya sudah tidak utuh baik dari sisi bentuk atau fisik maupun kontennya. Jumlah yang kita dapatkan adalah hasil kerja kita selama dua bulan terakhir (rentang bulan Juli – pertengahan September 2016).

KOMPAS.com/SRI LESTARI Contoh Lontar Bali yang terawat tapi perlu konservasi dan lontar rusak.

“Banyak masyarakat yang memperlihatkan lontar miliknya untuk dibantu diselamatkan, minta dibantu di konservasi dan dibacakan. Ini penemuan yang membahagiakan sekaligus menyedihkan,” kata I Nyoman Suka Ardiasa, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali, di Denpasar, Rabu (14/9/2016).

Nyoman Suka menjelaskan bahwa lontar dan masyarakat Bali adalah hubungan kedekatan yang telah terwaris sejak dahulu. Kedekatannya bersifat sosiologis, psikologis dan religius.

Sebagian besar pemilik lontar adalah mereka yang telah putus dengan tradisi Lontar, misalkan pemilik aslinya adalah kakek atau nenek leluhurnya. Mereka sebagian besar tidak tahu merawat dan membaca lontar.

“Saat ini kita tim penyuluh masih dalam tahap pemetaan, belum sampai harus dibagaimanakan. Kami nanti akan melaporkan hasil penemuan ini kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk ditindaklanjuti,” ujar Suka.

Pendataan lontar ini tidak lain bertujuan untuk memperoleh gambaran kekayaan intelektual masyarakat Bali, baik dari segi jumlah maupun kondisi lontar tersebut. Dengan aktifitas tim penyuluh “jemput bola” ini berdampak positif terhadap keberadaan lontar.

Data sementara dari jumlah 8.239 lontar di Kabupaten dan Kota di Bali, diantaranya.

1. Buleleng. Jumlah total 611 lontar dengan rincian 330 lontar terawat tapi perlu konservasi lanjutan dan 281 rusak. 2. Badung. Jumlah total 326 lontar dengan rincian 164 terawat dan perlu konservasi dan 158 lontar rusak.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Contoh Lontar Bali yang terawat tapi perlu konservasi dan lontar rusak.

3. Denpasar. Jumlah total 819 lontar dengan rincian 655 lontar terawat tapi perlu konservasi dan 164 rusak. 4. Gianyar. Jumlah total 1.513 lontar dengan rincian 904 lontar terawat tapi konservasi dan 609 rusak. 5. Karangasem. Jumlah total 285 lontar dengan rincian 186 terawat tapi perlu konservasi dan 98 rusak.

6. Klungkung. Jumlah 2.103 Lontar dengan rincian 1.487 terawat tapi perlu konservasi dan 616 rusak. 7. Jembrana. Jumlah total 238 lontar dengan rincian 151 terawat tapi perlu konservasi dan 87 rusak. 8. Tabanan, jumlah total 1.921 lontar terawat tapi perlu konservasi dan 389 rusak.

9. Bangli, jumlah total 555 lontar dengan rincian 395 terawat tapi perlu konservasi dan 160 rusak. Menurut tim penyuluh bahwa data yang didapatkan saat ini belum final dan diprediksi akan terus bertambah sesuai dengan temuan yang akan didapatkan di lapangan.

****

KompasTravel kembali menghadirkan kuis “Take Me Anywhere 2”. Pemenang akan mendapatkan kesempatan liburan gratis yang seru ke Yogyakarta selama tiga hari dua malam.

Hadiah sudah termasuk tiket pesawat, transportasi lokal, hotel, konsumsi, dan beragam aktivitas seru selama di Yogyakarta. Juga raih kesempatan memenangkan hadiah smartphone. Klik link berikut: Mau Liburan Gratis di Yogyakarta? Ikuti Kuis “Take Me Anywhere 2”

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/14/194200327/ditemukan.8.239.lontar.bali.yang.terlantar.dan.rusak

Leave a Reply