Inya Lake, Tempat “Nongkrong” Muda-mudi Yangon

YANGON, KOMPAS.com – Hari itu Kota Yangon seperti diselimuti kabut tipis. Jika Yangon adalah foto, ibaratnya ada yang mengaplikasikan filter vintage di depan mata. Kesan gloomy begitu terasa, tak ada secercah pun sinar matahari, asap limbah bus-bus tua mengepul tak henti-henti.

Waktu itu sekitar pukul 17.00 waktu Yangon, Myanmar. Saya melangkahkan kaki dari lobby Hotel Mulia, yang baru dibuka pada September 2016, ke Inya Lake yang berada persis di seberangnya. 

Mirip dengan Ho Chi Minh City di Vietnam, menyeberang jalan di Yangon mutlak sebuah rintangan. Namun bedanya, tak ada motor di Yangon dan seluruh Myanmar. Hal itu dibenarkan Nang Hla May, pemandu wisata yang mengantar KompasTravel bersama rombongan Tourism Authority of Thailand (TAT).

“Sejak dulu tidak ada motor di Myanmar. Berbahaya untuk keselamatan,” tuturnya kepada KompasTravel

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Inya Lake, Yangon, Myanmar.

Alasannya semudah itu saja. Padahal, saat kita menyeberang jalan, nyawa tetap jadi taruhan. Mobil dan bus tak henti-hentinya mengebut. Bus yang jadi transportasi umum di Yangon berasal dari Jepang, namun umurnya mungkin sudah belasan hingga puluhan tahun. Ketika “batuk”, bus itu mengeluarkan asap hitam legam yang mengapung selama beberapa detik di udara.

Menggunakan intuisi yang tersisa, saya menyeberang jalan pelan-pelan. Mobil dan bus tetap mengklakson meski saya berada di jalur penyeberangan.

Begitu tiba di pinggir Inya Lake, sebuah gerobak rujak mangga langsung mangkal di depan mata. Setelah memerhatikan lekat-lekat, rupanya si penjual menyuguhkan manisan mangga yang dipotong tipis-tipis kemudian diberi cabai bubuk. Persis mangga potong yang banyak ditemukan di pinggir jalan kota-kota di Indonesia.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Rujak manisan mangga khas Myanmar di pinggir Inya Lake, Yangon.

Rumput hijau menghampar dari sini. Naik beberapa tangga, saya pun tiba di bibir danau. Bising dan hiruk-pikuk lalu-lintas tak lagi terdengar.

Beberapa muda-mudi asyik berfoto ria di pinggir danau. Mereka mengenakan longyi, sarung khas Myanmar, dalam beragam motif dan warna. Longyi digunakan oleh semua kalangan di Myanmar, tak terbatas gender atau status sosial.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI “Longyi”, begitu nama sarung khas Myanmar. Sarung ini digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Inya Lake adalah danau terbesar di Yangon. Danau ini dikelilingi taman seluas 14 hektar yang disebut Inya Lake Park. Sebelah utara Inya Lake adalah Parami Road, sebelah barat adalah Pyay Road, sebelah barat daya adalah Inya Road, sebelah selatan adalah University Avenue, dan sebelah timur adalah Kaba Aye Pagoda Road. 

Deretan jalan yang mengelilingi Inya Lake merupakan kawasan paling elit di Kota Yangon. Hanya ada beberapa bangunan yang langsung menghadap danau, antara lain tempat tinggal Aung San Suu Kyi dan Kedutaan Besar AS. 

Tak banyak yang tahu, Inya Lake adalah danau buatan yang dulu digunakan sebagai waduk. Bangsa Inggris membangun danau ini pada 1882-1883 sebagai sumber air tawar di Yangon.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Inya Lake adalah danau buatan yang dulu digunakan sebagai waduk. Bangsa Inggris membangun danau ini pada 1882-1883 sebagai sumber air tawar di Yangon.

Selain nongkrong, rupanya Inya Lake juga terkenal sebagai tempat memadu kasih. Saat menyusuri pinggiran Inya Lake di Kaba Aye Pagoda Road, tampak beberapa muda-mudi sedang berduaan di pinggir danau. Mereka menikmati sore dan menunggu matahari terbenam.

Setengah jam kemudian, saya kembali mengumpulkan nyali untuk menyeberang ke Hotel Mulia. Namun kali ini, dengan sebungkus rujak mangga seharga 500 Kyat (Rp 5.000) di tangan.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/11/133301927/inya.lake.tempat.nongkrong.muda-mudi.yangon

Leave a Reply