Kawasan Pecinan Magelang Bakal Jadi “Borobudur Street Market”

MAGELANG, KOMPAS.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berencana akan menata kawasan perekonomian “Pecinan” di Jalan Pemuda Kota Magelang, Jawa Tengah, menjadi “Borobudur Street Market”.

Pecinan yang terletak sekitar 10 kilometer dari Candi Borobudur ini dinilai dapat menjadi salah satu kawasan yang dapat menyangga destinasi wisata Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.

Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenpar Hari Untoro Dradjat menjelaskan eksistensi Candi Borobudur sebagai cagar budaya dunia akan tetap dipertahankan. Namun potensi wisata di sekitarnya yang akan dikembangkan, salah satunya Pecinan yang sejauh ini sudah menjadi salah satu nadi perekonomian Kota Magelang.

“Ada anggapan bahwa Borobudur akan ‘di-cina-kan’, bukan itu maksudnya. Tapi di kotanya (Kota Magelang) yang memang sejak dahulu adalah Pecinan yang akan dikembangkan menjadi Borobudur Street Market,” ujar Hari, usai membuka Seminar Percepatan Pembangunan Destinasi Prioritas Pariwisata Joglosemar di Hotel Atria, Kota Magelang, Kamis (13/10/2016).

Hari memaparkan, ke depan Pecinan akan ditata dan dipercantik dengan tetap mempertahankan bangunan asli Pecinan.

Hal paling penting, lanjut Hari, adalah mengembalikan fungsi atau citra dari Pecinan itu sendiri. Sehingga Pecinan bisa jadi street market yang menarik minat wisatawan untuk berbelanja dan tinggal lebih lama di Magelang.

“Fungsi asli Pecinan harus dikembalikan. Kita lihat sekarang toko kelontong mulai banyak beralih jadi mal,” katanya.

Menurut Hari, pihaknya telah menggandeng insvestor yang akan ikut melakukan penataan Pecinan. Namun sebagian besar komunitas pemilik atau pengusaha yang ada di Pecinan saat ini juga turut mengembangkan konsep Borobudur Street Market itu.

“Meski telah menjadi Borobudur Street Market namun kepemilikan tetap milik mereka (pengusaha toko), namun jika ingin disewakan dipersilakan,” ungkapnya.

Kemenpar menargetkan Borobudur Street Market terwujud sebelum 2019. Sejauh ini Kemenpar sudah melakukan beberapa tahapan untuk mewujudkan konsep tersebut. Di antaranya melakukan kajian serta koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dalam upaya pembangunan infrastruktur maupun penambahan fasilitas pendukungnya.

“Misalnya akan ditata pedestriannya. Wisatawan akan lebih nyaman kalau di beberapa titik pedestrian ada tempat duduk untuk ngopi. Kemudian reklame juga akan diatur estetikanya,” ucapnya.

Hari melanjutkan, konsep ini sudah diterapkan di negara-negara di Eropa. Di Singapura juga memiliki kawasan Pecinan yang ditata dengan baik sehingga mampu mendatangkan banyak pelancong.

Menurutnya, pemerintah daerah juga harus turun tangan terkait perawatan bangunan tua. Sebab, meski menjadi pusat perbelanjaan akan tetapi tetap harus mengedepankan pelestarian bangunan yang berstatus cagar budaya.

“Ciri khas Pecinan harus tetap dipertahankan. Namun jangan sampai Pecinan terkesan semrawut, kumuh, dan pada akhirnya mati,” ujarnya.

Selain Pecinan, perlu dikembangkan pula desa wisata, wisata kuliner, dan lainnya yang potensial di sekitar Candi Borobudur. Termasuk usaha-usaha homestay yang menjadi tempat istirahat para wisatawan.

“Data tim percepatan pembangunan destinasi prioritas pariwisata menyebutkan, ada sekitar 100 ribu homestay di Indonesia yang akan dikembangkan. Saya pikir ada dari Magelang yang patut diperhatikan perkembangannya,” kata Hari.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/15/060657727/kawasan.pecinan.magelang.bakal.jadi.borobudur.street.market.

Leave a Reply