Kehidupan Perempuan Bali Dan Upaya Pelestarian “Mejejaitan”

DENPASAR, KOMPAS.com – Perempuan di Bali memang dituntut banyak menguasai hal yang berkaitan dengan prosesi ritual, persembahyangan, adat dan budaya serta prosesi upacara adat sesuai tata cara Hindu.

Salah satu yang wajib perempuan kuasai adakah “Mejejaitan”. Mejejaitan adalah membuat berbagai sarana persembahyangan yang terbuat dari daun kelapa atau janur, daun ental dengan berbagai pendukungnya seperti bunga dan buah.

Mejejaitan artinya menjahit bahan seperti janur untuk dibuat wadah atau sarana persembahyangan untuk membuat banten atau sesaji, juga menjahit janur untuk perlengkapan lain dalam ritual upacara maupun saat hari raya.

(BACA: Kisah Romantis Le Mayeur dan Ni Pollok di Sanur Bali)

“Kita perempuan di Bali memang harus tahu dan bisa mejejaitan. Kalau sebagai perempuan kita tidak bisa, kalau nanti sudah berumah tangga akan kerepotan. Kan di Hindu banyak sekali acara keagamaan dengan berbagai ritual. Jadi ya perempuan Bali wajib itu bisa mejejaitan,” kata Ni Luh Wahyu Sri Noviani di sela-sela acara Mabesikan Festival, di Denpasar, Bali, Sabtu (22/10/2016).

Di acara Mabesikan Festival, bersama ketiga temannya mereka membuat salah satu sesaji atau banten yaitu Banten Pejati. Banten Pejati ini dipersembahkan sebagai sarana persembahyangan di setiap gelaran acara untuk meminta keselamatan dan kelancaran.

Banten Pejati terdiri dari berbagai bahan dari bunga, buah, kelapa, berbagai rangkaian janur sebagai pelengkap.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Banten Pejati untuk ritual persembahyangan di setiap gelaran acara agar mendapat kelancaran dan kemudahan.

“Saya sebagai perempuan Bali tertarik dengan mejejaitan ini sudah lama, sejak kecil sudah diajari. Jadi sudah besar tinggal gampang membuatnya. Ini kan salah satu tuntutan saya sebagai perempuan yang harus melestarikan budaya Bali,” kata Ni Luh Wahyu Sri Noviani.

Mejejaitan Jadi Peluang Bisnis

Banyak perempuan Bali menilai bahwa aktivitas mejejaitan menjadi peluang bisnis bagi rumah tangga untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Perempuan Bali yang saat ini sudah setara dengan pria sudah banyak yang sibuk menjadi wanita karir sehingga selalu perhitungan waktu.

Waktu bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah membeli kebutuhan sarana upacara keagamaan daripada membuat sendiri yang membutuhkan waktu tenaga. Inilah yang dimaksud Ni Luh Wahyu Sri Noviani agar perempuan Bali mencari peluang bisnis dengan mejejaitan.

Hasil dari mejejaitan dijual ke pasaran dan tentu akan laku mengingat di Bali setiap saat terdapat upacara keagamaan yang membutuhkan berbagai sarana dan prasarana persembahyangan.

“Kalau pintar mejejaitan, kita bisa mandiri, ini kan juga peluang buat ibu-ibu untuk menambah penghasilan. Setiap saat di Bali kan ada aja upacara keagamaan, peluang besar itu,” kata Ni Luh Wahyu Sri Noviani.

Sementara, Putu Sulasih, salah satu penjual banten di Pasar Sanglah Denpasar menyampaikan bahwa dirinya bertahan hidup dengan menjual banten.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Prosesi pembuatan Banten Pejati di acara Mabesikan Festival, di Denpasar, Bali, Sabtu (22/10/2016).

“Anak saya tiga orang sekolah semua. Suami saya hanya tukang parkir yang penghasilannya tidak menentu. Saya jual banten ini sangat membantu sekali, bersyukur saya ini,” kata Putu Sulasih.

Harapan Putu Sulasih sama dengan harapan Ni Luh Wahyu Sri Noviani bahwa generasi muda Bali harus bisa melestarikan warisan leluhur ini di tengah perkembangan zaman.

Walaupun saat ini dunia canggih dengan berbagai penemuan teknologi, tapi akar budaya tetap menjadi fondasi bangsa yang harus dipertahankan.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/23/072100927/kehidupan.perempuan.bali.dan.upaya.pelestarian.mejejaitan.

Leave a Reply