Kenapa Turis Amerika Serikat Tidak Berkunjung Ke Indonesia?

KOMPAS.com – Ada anggapan wisatawan asal Amerika Serikat kurang berminat berlibur ke Indonesia. Seorang profesor di bidang humaniora dari Universitas Maryland di Amerika Serikat, Barbara Russell menyebutkan hanya sedikit wisatawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Indonesia.

“Lebih dari 75 juta warga Amerika Serikat pergi ke luar negeri setiap tahun. Hanya sekitar 7 persen yang mengunjungi Asia, itu sekitar 5 juta orang. Namun, hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut yang mengunjungi Indonesia,” ungkap Barbara dalam tulisannya untuk The Jakarta Post.

Ia mengatakan wisatawan Amerika Serikat yang datang ke Indonesia umumnya hanya fokus berkunjung ke Bali yang telah memang dikenal sebagai destinasi wisata secara global. Mayoritas wisatawan Amerika Serikat menurut Barbara mengenal Bali sebagai negara berbentuk pulau dan beriklim tropis di kawasan Pasifik.

“Ketika saya kembali ke Kanada, tempat asal saya dan ke Amerika Serikat tempat saya 20 tahun tinggal, sebagian besar mengenal Bali sebagai negara di kawasan Pasifik. Faktanya, Bali adalah bagian dari negara Indonesia yang memiliki populasi terbesar keempat di dunia dan pasti akan mengejutkan masyarakat khususnya di belahan utara Amerika,” tulisnya.

Lalu mengapa wisatawan Amerika Serikat kurang berminat mengunjungi Indonesia? Barbara memiliki analisis terkait hal tersebut.

Sony Pictures Film “Eat, Pray, Love” yang berlatar di Ubud, Balli.

Hubungan sejarah dan budaya

Barbara menyebutkan ada beberapa hubungan sejarah dan budaya yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Asia. Seperti terkait sejarah peperangan AS di Vietnam dan Kamboja.

“Amerika berperang di Vietnam dan Kamboja dan menyambut baik kelompok besar pengungsi setelah mereka perang yaitu keluarga yang kini kembali ke tanah air mereka secara teratur. Kehadiran militer besar kami (Amerika) di Filipina dan Thailand membangun hubungan secara alami di sana dan menciptakan sejumlah besar pernikahan,” ujar Barbara.

Selain itu, perantau dari negara-negara Asia di Amerika Serikat juga memiliki hubungan erat. Ia menjelaskan imigran-imigran dari China turut membantu rel kereta api di Amerika Utara. Hal itu menjadikan budaya-budaya China turut ambil bagian dari warisan budaya Amerika Serikat.

“Juga tidak hanya karena jumlah dan suksesnya diaspora imigran Jepang di AS, tetapi juga ada kesan berkelas hal-hal terkait Jepang seperti arsitektur dan desain taman, Zen Buddhisme, sushi (dan makanan Jepang pada umumnya), seni bela diri, film dan sastra tercermin di Amerika Serikat,” jelas Barbara.

Di sisi lain, ia memandang Indonesia tetap tak diketahui. Hanya sangat sedikit imigran Indonesia di Amerika Serikat. “Terlepas dari film The Year of Living Dangerously dan Eat Pray Love yang mengambil lokasi di Bali dan tentu musibah tsunami Aceh tahun 2004, Indonesia tak muncul di radar Amerika Serikat,” ungkapnya.

Pemberitaan negatif dan sampah

Pemberitaan negatif tentang Indonesia turut berpengaruh terhadap minat wisatawan Amerika Serikat datang ke Indonesia. Ada juga beberapa hal-hal negatif yang muncul di berita-berita dunia, termasuk apa yang disebutkan oleh Kontributor The Jakarta Post, Duncan Graham yaitu Indonesia adalah negara yang “melukai diri sendiri”,

Salah satunya terkait hukumat mati untuk kejahatan narkoba. Menurut Barbara, hal itu tidak berarti turis AS akan menyembunyikan narkoba dalam tasnya. Namun, ia memandang penegakan hukum semacam itu bisa mempengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih negara yang menjadi destinasi wisatanya.

Masalah lain yang mengganggu banyak wisatawan adalah sampah di Indonesia. Menurut Barbara, masalah sampah di AS terjadi pada tahun 1950-an dan pada saat tersebut siapapun yang tertangkap membuang sampah akan kena denda dan diminta untuk melakukan pelayanan masyarakat.

“Menjadi hal yang tidak mengherankan saat kemudian wisatawan Amerika tercengang dan muak dengan sampah yang berserakan di kota-kota di Indonesia. Orang Indonesia tampaknya tidak masalah ketika melempar sampah di tanah atau di sungai atau menyeberang melalui tumpukan sampah di sisi jalan,” jelas Barbara.

Menurutnya, banyak wisatawan dari negara-negara Barat kagum dan tertarik terhadap adat, kekhasan, dan kehangatan masyarakat Indonesia. Namun, hal itu seakan hilang saat melihat dan mencium bau sampah.

Selengkapnya mengenai tulisan Barbara Russell di The Jakarta Post ini bisa dibuka dalam artikel “Why American tourists don’t come to Indonesia”.

 

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/04/161000227/kenapa.turis.amerika.serikat.tidak.berkunjung.ke.indonesia.

Leave a Reply