Lumpia Semarang Merantau Ke Ibu Kota

OLEH: PINGKAN ELITA DUNDU & WINDORO ADI

LUMPIA semarang. Dua kata ini menguatkan Semarang sebagai salah satu destinasi kuliner Nusantara. Dan, tidak hanya lumpia. Masih ada tahu gimbal, babat gongso, bandeng presto, dan sederet olahan sedap lain yang identik dengan kota ini.

Kelezatan ini membuat orang akan selalu merindukannya. Termasuk mereka yang sudah lama tinggal di Jakarta sekalipun.

Saat rindu menyergap tetapi kesempatan ke kota asal belum tiba, jangan galau. Datanglah ke kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Di situ, ada satu restoran yang menyajikan aneka menu Semarangan. Restoran Lumba-lumba (Lumba2) namanya.

Restoran mungil ini terletak di pojokan Jalan Kemukus, di sisi timur Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat.

Hidangan utamanya antara lain soto semarang, bakmi jowo godok, bakmi jowo goreng, tahu pong, gimbal udang, petis kangkung yang lengkap dengan taburan tahu, nasi babat gongso, dan nasi goreng babat.

Olahan bandeng pun tersedia, mulai dari bandeng presto, bandeng pepes, hingga bandeng otak-otak. Bahkan, ada variasi nasi goreng bandeng.

Oleh-oleh Semarang seperti wingko, tahu petis, dan tentu saja lumpia bisa didapatkan di sini.

Sayang, ketika Kompas mengudap di sana, Jumat (26/8/2016) menjelang sore, rasa tahu dan petisnya kali itu di bawah standar biasanya. Meski demikian, lidah terobati saat mencicipi nasi goreng bandeng, bakmi goreng, bakmi godok, dan terutama lumpia spesial.

Bagi penggemar rasa pedas, menu seperti bakmi goreng dan babat gongso bisa dipesan pedas. Rasa pedas ini akan memberikan kesan tersendiri di penghujung santapan.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Bandeng presto, makanan khas lain asal Semarang yang banyak digemari, tersedia di Restoran Lumba-lumba di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Mi pikulan

Aroma asap hidangan mi di Restoran Lumba-lumba menerbitkan kembali kenangan para penjual mi pikulan yang berjalan beriringan menyusur sawah dan rel kereta api, ke luar Kampung Plombokan di Semarang Utara, setiap sore menjelang malam.

Sampai tahun 1980-an, Plombokan dikenal sebagai salah satu sentra mi pikulan di Kota Semarang. Bumbu khasnya bawang putih dan ebi (udang kecil) yang sudah dihaluskan bersama beberapa rempah lainnya. Makanan pelengkap mi pikulan adalah sate ayam goreng dan pia-pia yang mirip bakwan bertabur udang.

Di kota asalnya, tahu pong dan gimbal udang antara lain muncul dari kawasan Depok, Semarang Tengah. Sementara lumpia atau loenpia berawal dari kawasan pecinan, Gang Lombok di sekitar Wihara Tay Kak Sie Gang.

Rasa lumpia produk Restoran Lumba-lumba ini enak dan bisa mengobati rasa kangen dengan kuliner Semarang meskipun belum bisa mengalahkan ”nendang”-nya Gang Lombok.

Tetapi, bandeng prestonya ala Lumba-lumba berkualitas setara dengan bandeng presto yang dijajakan di sederetan tempat oleh-oleh di Jalan Pandanaran, Semarang. Maklum, Jonathan, si empunya warung makan, juga wong Semarang.

Bandeng Juwana

Ayah Jonathan mengawali usahanya dengan membuka usaha bandeng presto Cap Lumba-Lumba di Jalan Pandanaran, diikuti pembukaan warung makan Lumba-lumba di Gang Baru, Semarang Tengah, awal 1990-an.

”Pak Jo baru buka di sini tahun 2012,” kata Bahrun (20), supervisor Lumba-lumba. Meski demikian, warung baru mulai ramai sejak tiga tahun terakhir.

”Yang paling laku di sini bandeng presto. Di hari biasa, 200 ekor ludes. Pada akhir pekan melambung sampai 500 ekor. Bandeng mentah ’diimpor’ dari Juwana, Jawa Tengah,” ujarnya.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Sejumlah menu khas Semarang, seperti lumpia, nasi goreng jawa, mi goreng jawa, dan tahu gimbal, bisa dinikmati di Restoran Lumba-lumba di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Menu lain yang laris adalah tahu gimbal, tahu pong, dan bakmi jawa. Di hari biasa antara 25 porsi dan 30 porsi dari masing-masing hidangan yang terjual. Di akhir pekan, jumlah terjual bisa sampai 40-50 porsi.

Restoran dibuka pukul 09.00 sampai pukul 21.00. Lantaran ukuran ruangan yang mungil, jumlah meja-kursi yang tersedia di sini terbatas.

Adaptasi rasa

Kelapa Gading di Jakarta Utara juga punya restoran yang menyediakan menu ala Semarang. Salah satu yang tertua adalah Rumah Makan Bulevar.

Rumah makan ini buka sejak 11 Desember 1983 saat sebagian kawasan sekitarnya masih rawa. Berselang 30 tahun, RM Bulevar berada di deretan pertokoan di sisi kiri dari arah Boulevard Kelapa Gading menuju Jalan Perintis Kemerdekaan.

Meskipun lingkungan berubah pesat, menu andalan restoran ini tetap Semarang. Sebut saja lumpia, tahu pong gimbal, nasi goreng babat, mi jawa, serta soto ayam kampung.

Walaupun menu tradisional, rasa makanan di Bulevar sudah disesuaikan dengan lidah perantau. Salah satunya dengan mengurangi kadar rasa manis.

Di sisi lain, olahan makanan di sini menggunakan bumbu yang diramu sendiri, bukan bumbu jadi yang dibeli di pasaran. Sejumlah bahan juga ”diimpor” dari Semarang, seperti rebung untuk lumpia dan kecap manis.

Masih soal bumbu. Lanny Gunawan (71), pemilik RM Bulevar, memastikan bahwa makanan yang disajikan di sini bebas pengawet dan monosodium glutamate alias MSG.

Seluruh racikan makanan dikerjakan sendiri oleh Lanny. Keterampilannya memasak merupakan ”transfer” ilmu dari seorang koki asal Semarang.

KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY Tahu pong telur gimbal spesial dari RM Bulevar.

Saat itu, tahun 1981, Lanny yang berprofesi sebagai perancang busana hijrah ke Jakarta . Sekitar tiga tahun belajar dari koki, ia pun mulai merintis usaha makanan ala Semarang. Saat itu belum banyak rumah makan di kawasan tersebut, apalagi yang khusus menyediakan makanan Jawa-Semarang.

Adapun nama Bulevar diambil dari nama jalan di tempat rumah makan ini berdiri, yakni Jalan Boulevard Raya. Oleh pemilik rumah makan, nama jalan diadaptasikan ke bahasa Indonesia. Jadilah Bulevar.

Sihir rebung

Kembali ke soal makanan. Tak lengkap rasanya apabila lumpia Semarang tak memakai rebung. Penganan favorit ini merupakan perpaduan rasa antara Tionghoa dan Indonesia.

Bau khas rebung yang cukup dominan membuat lumpia semarang ini beda dengan lumpia lainnya. Bahkan, dalam jarak tertentu, aroma rebung sudah tercium sebelum mata melihatnya, terutama jika lumpia basah bertemu dengan minyak panas.

Pada lumpia ala Bulevar, aroma rebung lebih lembut, tidak terlalu menyengat. Lanny mengakui pengurangan aroma rebung ini merupakan salah satu bentuk adaptasi rasa.

”Saya cuci rebung lebih lama. Selain itu juga rebung direbus agak lama dari biasanya. Ini untuk mengurangi baunya,” ujarnya berbagi resep.

Lumpia semarang juga memiliki saus khusus yang kental berwarna coklat muda. Selain dengan saus, lumpia juga enak dimakan dengan gigitan cabai rawit dan acar ketimun. Di sejumlah restoran seperti Bulevar, irisan lobak menemani lumpia.

Menyelamatkan lumpia

Rasa kangen akan lumpia ini tidak bisa ditepis, termasuk oleh sebagian kalangan yang tinggal di luar negeri. Lanny mengatakan, lumpianya sudah dibawa hingga mancanegara, termasuk ke negeri Amerika Serikat.

Dengan daya tahan lumpia yang amat terbatas, Lanny memberikan trik bagi mereka yang akan menjadikan lumpia ini sebagai oleh-oleh.

KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY Soto ayam kampung di RM Bulevar.

Lumpia basah yang tak lain adalah racikan rebung berbalut kulit khusus lumpia hanya tahan maksimal empat hari. Itu pun dalam kondisi beku. Jika dibawa terbang 12 jam, lumpia basah yang sudah dibekukan ini harus disimpan dalam wadah yang kedap udara. Sesampainya di tempat tujuan, lumpia harus segera digoreng.

Kalau cara ini terlalu ribet, ada cara lain. Lanny lebih merekomendasikan lumpia digoreng. ”Membawa lumpia yang sudah digoreng lebih awet,” katanya. Di tempat tujuan, lumpia goreng ini tinggal dihangatkan di microwave sebelum disantap. Nyam!

Di Jakarta, dengan segudang kesibukan pelanggan, kesempatan untuk mencicipi lumpia atau aneka kuliner Semarangan semakin dimudahkan dengan layanan pesan-antar.

Baik Lumba-lumba maupun Bulevar memiliki layanan tersebut. Dengan begitu, tidak sulit lagi menggapai makanan kesukaan, apalagi saat rindu tiba. (DHF/ART)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Agustus 2016, di halaman 28 dengan judul “Lumpia Semarang Merantau ke Ibu Kota”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/01/091000627/Lumpia.Semarang.Merantau.ke.Ibu.Kota

Leave a Reply