Menengok Buddha Berpakaian Di Dasar Goa Khao Luang

SINAR matahari menembus kawah Goa Khao Luang, di sebuah siang di Provinsi Phetchaburi, Thailand. Kawah itu menjadi jalan masuk bagi cahaya yang memendarkan sinar ke puluhan patung Buddha berlapis emas di dasar goa.

Goa Khao Luang merupakan tempat sembahyang bagi umat Buddha Mahayana di Thailand yang kini sedang gencar digalakkan sebagai destinasi wisata alternatif oleh Tourism Authority of Thailand (TAT).

Awal September 2016, TAT mengundang delapan wartawan Indonesia untuk melihat kunonya tempat yang dibangun 150 tahun lalu ini.

Pemandu rombongan, Kendo, menuturkan sekitar 100 tahun lalu, Raja Rama V membangun tempat ibadah ini sebagai penghormatan bagi pendahulunya. Lokasinya berdekatan dengan istana musim panas raja di utara Phetchaburi.

Berjarak sekitar 3 jam dari Bangkok, Goa Khao Luang berada di sebuah perbukitan dengan akses jalan yang bagus. Dari Bangkok atau Bandar Udara Suvarnabhumi tinggal naik van dengan tarif 120 baht sampai ke terminal Phetchaburi dan tambah 40 baht untuk angkutan dari sana ke Goa Khao Luang.

Untuk pilihan yang lebih hemat, bisa juga naik bus dari Bangkok dengan tarif 60 baht sampai terminal, lalu naik angkutan ke Khao Luang. Namun pengunjung harus meninggalkan kendaraannya ketika sampai di kaki bukit itu. “Di sini banyak monyet, harus hati-hati,” kata Kendo.

Karena alasan itu pula, kata Kendo, kami harus berpindah kendaraan ke sejenis bemo terbuka yang mengantarkan kami ke area goa sekitar 400 meter jauhnya. Biayanya 20 baht per orang. Alunan lagu Thailand dari kantor pengelola mengiringi jalan masuk ke area goa.

KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR Patung Buddha berpakaian di dasar Goa Khao Luang, Thailand.

Di depan, sebuah lahan luas untuk parkir terlihat kosong. Kios-kios di kanan kirinya juga tutup. Masuk bagi pengunjung tidak dikenakan biaya, alias gratis. Menurut Kendo, ini karena pemerintah memang mengupayakan agar banyak yang berkunjung ke tempat tersembunyi ini.

Untuk mencapai dasar goa, pengunjung harus menuruni puluhan anak tangga yang curam. Beruntung, ada hand rail besi yang dapat jadi pegangan.

Sesampainya di dasar, terlihat goa ini dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama masih berupa ruang terbuka, lalu masuk ke ruang utama, puluhan relik Buddha dari berbagai ukuran menghiasi ruang ini.

Di sebelah kanan, ada tempat sembahyang yang biasa digunakan untuk berlutut dan membakar dupa. Lalu di seberang kirinya, ada patung Buddha berbaring dengan tinggi sekitar lima meter dan panjang dua puluh meter. “Di sini satu-satunya tempat Buddha yang pakai baju,” kata Kendo.

Dari leher ke kaki, Buddha diselimuti kain berwarna kuning keemasan. Begitu pula seluruh patung Buddha yang berukuran lebih kecil, juga dipakaikan kain. Menurut Kendo, itu lah yang membuat kuil ini berbeda dengan kuil lainnya di seluruh penjuru Thailand. Namun tidak ada yang tahu pasti alasan Buddha di sini disarungi kain.

Di sepanjang ruang utama, kotak bertuliskan nama haru dan berisi lilin elektrik serta patung Buddha mini, diletakkan sebagai kotak sumbangan. Para pengunjung dapat mendonasikan uang di sini untuk kemudian diambil oleh biksu-biksu untuk membeli makanan.

Meski tak jadi tempat tinggal para biksu, Khao Luang masih dianggap sebagai tempat suci bagi para penduduk lokal yang ingin berdoa.

KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR Ruang utama Goa Khao Luang, di Thailand.

Namun upaya mendongkrak pariwisata di Phetchaburi membuat pemerintah lebih ramah dan akomodatif bagi para turis. “Di sini pernah ada yang foto pre-wedding, bisa minta izin dulu ke otoritas,” ujar Kendo.

Celana pendek dan sandal boleh digunakan para pengunjung. Tapi satu yang kata Kendo tidak boleh dilakukan adalah berburu Pokemon.

Selain sinyal yang benar-benar blank, pemerintah Thailand melalui Komite Nasional Penyiaran dan Komunikasi telah meminta agar pengembang Pokemon Go tidak menempatkan Pokemon di tempat terlarang yakni istana, kuil-kuil Buddha, serta rumah sakit.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/04/184600327/Menengok.Buddha.Berpakaian.di.Dasar.Goa.Khao.Luang

Leave a Reply