Mengharap Kunjungan Tetangga Sebelah

INDONESIA dan Malaysia itu ibarat dua penghuni kompleks perumahan di kota besar. Kedua negara itu saling berdekatan, tetapi ternyata belum saling mengenal lebih jauh. Sebagai tetangga yang baik, Indonesia mencoba mengetuk pintu Malaysia, bersilaturahim, dan menawarkan undangan kunjungan balasan.

Pada Kamis (1/9/2016), saat kami melakukan perjalanan dari Bandar Udara Kuala Lumpur International 2 (KLIA2) menuju kawasan Bukit Bintang, Azajawfi (49), orang Malaysia yang menyopiri mobil itu, banyak bertanya kepada kami. ”Oh jadi ada Surabaya, ya. Dekat dengan Bandung?” tanyanya.

Dari beberapa pertanyaannya, kami pun sedikit memberikan penjelasan tentang geografi Indonesia. Azajawfi, sambil menyetir, sesekali manggut-manggut saat mendengar penjelasan bahwa Pulau Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ia juga baru menyadari Pulau Jawa sangat panjang.

”Begitulah kondisinya. Kebanyakan orang Malaysia hanya tahu Jakarta, Bandung, Medan, atau Bali,” kata Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Tenggara Kementerian Pariwisata Rizki Handayani. Banyak Azajawfi-Azajawfi lainnya yang tidak tahu bahwa Indonesia memiliki banyak tujuan wisata menarik.

Ada pula persepsi bahwa warga Indonesia dan Malaysia sama-sama suku Melayu. Padahal, Indonesia memiliki beragam suku dan kebudayaan. Warga Malaysia pun harus tahu tentang itu dan kemudian tertarik mengeksplorasi keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia. Mereka harus tahu Indonesia beda dengan Malaysia.

Rizki menilai, situasi semacam ini membuat warga Malaysia yang berwisata ke Indonesia belum terlalu banyak. Selama 2015, wisatawan Malaysia yang datang sekitar 1,2 juta orang. Tahun ini, pemerintah ingin meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Malaysia ke Indonesia menjadi 2 juta orang per tahun.

Untuk itu, Kementerian Pariwisata pada 1-4 September 2016 menggelar ajang Explore Exotic Indonesia Street Festival di kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia. Ajang ini merupakan sebuah promosi wisata dengan konsep yang baru pertama kali dilakukan di negeri tersebut.

Konsep baru itu terletak dari cara mempromosikan paket wisata ataupun kebudayaan Indonesia, entah itu tarian, musik, atau kerajinan tangan.

Selama ini, promosi wisata di luar negeri dilakukan di dalam stan di sebuah ruangan pameran wisata. Mereka menunggu para pengunjung menghampiri stan itu dan kemudian menawarkan berbagai paket wisata.

Pada awal September di Bukit Bintang itu, promosi wisata dengan menggunakan stan tetap dilakukan seperti yang terlihat di dalam gedung pusat perbelanjaan Lot 10.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/22/081200127/mengharap.kunjungan.tetangga.sebelah

Leave a Reply