Menghormati Kozu Di Kampung Nunur Manggarai Timur

WARGA petani di Kampung Nunur, Kampung Mok, di Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur sangat menyatu dengan alam.

Bahkan, warga petani yang berada di bagian selatan dari Kabupaten Manggarai Timur, seperti Desa Ranakolong, Desa Gunung, Desa Gunung Baru menyapa alam sebagai saudara dan saudari yang dituangkan dalam bahasa-bahasa adat.

Ritual adat menghormati kozu, padi dan kadhea, jagung selalu dilaksanakan dalam satu tahun musim tanam sampai musim panen.

Mereka percaya bahwa alam memberikan kehidupan bagi manusia. Segala sesuatu bersumber dari alam. Mulai dari  air minum, makanan serba berbagai jenis lainnya.

Untuk menyapa alam, manusia melakukan ritual-ritual dengan berbagai lambang-lambang. Lambang-lambang itu sebagai perantara untuk memohon persetujuan dari alam terhadap segala sesuatu yang akan ditanam.

Wujud nyata terhadap penyatuan dengan alam adalah ritual-ritual adat yang bersentuhan dengan alam. Selama musim tanam dalam setahun, warga petani yang tersebar di kampung-kampung selalu melaksanakan ritual adat.

Ritual adat dilaksanakan sepanjang tahun. Mulai dari memberkati benih, membersihkan lahan perkebunan, mulai menanam benih, padi atau jagung sudah mulai berbunga, sebelum panen padi dan jagung, saat panen sampai memisahkan benih padi dengan batang gabahnya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Meriahkan HUT ke-71 RI di Kecamatan Kota Komba, anggota sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba mementaskan sendratari ritual Riik Kozu (injak padi) di Lapangan Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016) malam.

Ritual menghormati Kozu, padi di Flores Barat selalu dilambangkan dengan seekor ayam dan telurnya.

Adapun beberapa ritual menghormati Kozu dan Kadea dari warga pertani di Manggarai Timur, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur yang dirangkum KompasTravel.

1. Ritual Ndetok Nii

Ritual Ndetok Nii merupakan ritual memberkati benih padi, kozu, jagung, kadea dan berbagai jenis kacang-kacangan. jadi, pertama kali orang Manggarai Timur mengenal tanaman berupa benih padi, kozu, jagung, kadea serta berbagai jenis pangan lokal, seperti, lepang, sorghum. Dan juga jenis kacang-kacangan.

Ritual Ndetok Nii merupakan ritual tahap awal dalam musim tanam setahun sesuai dengan kebiasaan warga petani di Manggarai Timur, Flores Barat.

Dalam tradisi orang Manggarai Timur, ritual adat itu dilaksanakan di Watu Nurung (tempat sesajian) yang dilaksanakan di dapur. Tempat itu sangat dekat dengan tungku api.

Pertama-tama yang melaksanakan ritual adat itu, tua adat di kampung. Jikalau tua adat di kampung belum melaksanakan ritual ndetok nii, maka warga masyarakat tidak bisa menanam pagi atau jagung.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba dari Kampung Mok, Desa Mbengan memeriahkan HUT ke-71 RI dengan mementaskan tarian Riik Kozu (injak padi) di Lapangan Waelengga, ibu kota Kecamatan Kota Komba, Kelurahan Watunggene, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016) malam.

2. Ritual Weri Mata Nii

Dimulai dengan menyembelih Seekor ayam jantan di tengah atau di pinggir ladang sebelum Weri Mata Nii, tanam benih padi. Darah ayam diteteskan kepada benih padi, sebatang kayu, roto sebelum memulai tanam. Ritual ini menghargai alam sebagai tempat bertumbuhnya padi.

Ladang sebagai tempat menanam berbagai jenis pangan lokal sangat dihormati dengan berbagai upacara adat. Meneteskan darah ayam kepada benih padi sebagai lambang menghormati padi serta membebaskan padi dari berbagai macam serangan hama.

3. Ritual Podong

Ritual ini membersihkan rumput-rumput diladang saat padi mulai tumbuh. Rumput atau tumbuhan yang mengganggu pertumbuhan padi dicabut. Berbagai rumput dan tumbuhan yang ada di sela-sela padi dibersihkan agar proses pertumbuhan padi berjalan dengan baik.

4. Karong Kozu Wole

Ritual ini dilaksanakan di kampung-kampung dengan berbagai tari-tarian untuk menghantar padi yang sudah di panen. Sebelum tari-tarian dalam upacara karong kozu wole dalam sebuah kampung, terlebih dahulu dilaksanakan ritual adat yang dilambangkan seekor ayam.

Ayam sangat penting bagi kelangsungan ritual adat di Manggarai Timur di Flores Barat. Darah ayam sebagai lambang yang sangat berarti bagi warga petani di Manggarai Timur, Flores Barat. Semua ritual adat selalu menyembelih seekor ayam.

5. Ritual Riik Kozu

Ritual ini berupa injak padi yang sudah matang. Ritual ini untuk memisahkan benih padi dengan batang gabahnya. Ritual ini biasa dilaksanakan di sebuah tenda panggung yang beralaskan dengan bambu bersegi empat dengan tiang-tiang dari kayu. Dulu warga petani yang tersebar di kampung-kampung tidak mengenal dengan mesin rontok.

Sebelum dilaksanakan injak padi, Riik Kozu, terlebih dahulu dilangsungkan upacara adat yang dilambangkan oleh tua adat. Ritual itu untuk menghormati dan menghargai padi agar padi tidak hilang.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba mementaskan sendratari Riik Kozu (injak padi) dengan tarian Wai Doka (jalan di atas bambu) dalam rangka memeriahkan HUT ke-71 RI di Lapangan Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016) malam.

Dalam kepercayaan orang Manggarai Timur, benih padi bisa hilang. Padi yang siap panen bisa hilang diambil oleh roh halus yang berada di kebun-kebun. Bisa juga hilang apabila tidak memberikan sesajian kepada leluhur.

Jadi upacara adat yang dilaksanakan adalah memohon alam semesta dan penjaga-penjaganya berupa roh halus untuk bersama-sama menjaga agar padi tidak hilang. Darah, sayap, daging ayam dipersembahkan kepada penjaga di kebun itu agar mereka tidak mengganggu padi. Juga mereka tidak menghilangkan padi yang siap panen.

Sanggar Uma Lodok

Sejak dibentuk Sanggar Uma Lodok di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Komba di Kampung Mok, Desa Mbengan 2010 lalu. Para pendidik disekolah itu didukung dengan kreatifitas dari Kepala Sekolahnya mendidik anak-anak sekolah, bukan saja dengan ilmu pengetahuan yang diatur dengan kurikulum melainkan anak-anak sekolah di didik dengan ilmu budaya sesuai dengan budaya di Manggarai Timur.

Para pendidik bersama dengan siswa dan siswi di sekolah itu menggali informasi budaya dan ritual-ritual adat setempat. Bahkan, tari-tarian yang diwariskan leluhur di Desa Mbengan di Manggarai Timur digali dan dilatih demi keberlangsungan dan keberlanjutan dari warisan leluhur tersebut.

Wai doka, merupakan warisan budaya masyarakat di Desa Mbengan. Wai Doka merupakan tarian-tarian, dimana orang berjalan di atas bambu dipadukan dengan pakaian adat Manggarai Timur seperti memakai kain songke, selendang dan baju kemeja putih.

Tarian ini sudah dipentaskan di pekan budaya tingkat Kabupaten Manggarai Timur. Bahkan, sudah ditampilkan pada pekan budaya Flores di Kabupaten Sikka beberapa tahun lalu.

Tarian Wai Doka, sebagai ciri khas Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Komba. Jikalau kita ingin menyaksikan tarian ini maka berkunjunglah ke Desa Mbengan.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Mementaskan sendratari Riik Kozu (injak padi) dengan tarian Wai Doka dari anggota Sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba, di Lapangan Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016).

Setelah Wai Doka berhasil dipentaskan di berbagai acara budaya di Pulau Flores. maka, pelajar di sekolah itu menggali informasi lagi terkait budaya. Salah satunya adalah tarian Riik Kozu, injak gabah padi.

Tarian Riik Kozu biasa dilaksanakan di ladang-ladang saat panen padi. Kini, tarian ini dipentaskan kepada masyarakat umum di Kabupaten Manggarai Timur khususnya, dan Pulau Flores pada umumnya.

Pelajar SMAN 2 Kota Komba membawakannya dalam bentuk sendra tari. Saat Tour de Flores beberapa bulan lalu, pelajar ini menampilkan riik kozu kepada tamu yang singgah di Manggarai Timur. Saat itu dilaksanakan di Pantai Cepi Watu.

Setelah berhasil dipentaskan di Pantai Cepi Watu, selanjutnya pada Selasa (16/8/2018) malam dipentaskan tarian Riik Kozu untuk menghibur warga masyarakat di Kota Waelengga, ibu kota Kecamatan Kota Komba.

Sendratari ini dipentaskan oleh pelajar dari Sanggar Uma Lodok SMAN 2 Kota Komba untuk melestarian warisan budaya riik kozu. Sekelompok siswa dan siswi mementaskan  tarian ini yang dipadukan dengan pakaian songke.

Mereka membawakan ritual Riik kozu di Lapangan Sepak Bola Waelengga dalam bentuk sendra tari. Tarian Wai doka juga dibawakan saat sendra tari tersebut.

Desa Mbengan sebagai Desa Budaya

Kehadiran sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN 2) Kota Komba memberikan nilai tersendiri bagi warga masyarakat di Desa Mbengan dan sekitarnya. Lembaga ini mengembangkan kreatifitas pelajar di bidang budaya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Seorang tua adat di Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT sedang melihat urat ayam dalam berbagai ritual adat yang berhubungan dengan pertanian, Sabtu (19/8/2016).

Berbagai pementasan budaya yang ditampilkan dari pelajar yang bergabung di Sanggar Uma Lodok itu sangat didukung oleh tua-tua adat.

Keberlanjutan dan keberlangsungan budaya dengan berbagai ritual dan tari-tarian terus dilestarikan dan dikembangkan serta dipentaskan kepada masyarakat luas di Pulau Flores.

Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Komba, Bernabas Ngapan kepada KompasTravel, Rabu (17/8/2016) menjelaskan, sanggar Uma Lodok di bentuk untuk pengembangan kreatifitas anak didik di sekolah tersebut.

Ngapan, menjelaskan, sanggar ini dibentuk untuk mendidik dan membina kreatifias siswa dan siswi dalam mengembangkan budaya yang unik dari lingkungan setempat.

“Tarian Wai Doka, Riik Kozu dan Umbiro dikembangkan dan dipentaskan dalam berbagai acara budaya di Kabupaten Manggarai Timur maupun di Pulau Flores,” katanya.

Menurut Ngapan, tarian Riik Kozu, tarian injak gabah padi merupakan warisan leluhur dari Rajong, wilayah Elar. Zaman dulu sebagian warga Rajong bermigrasi ke Kampung Nunur. Saat bermigrasi untuk mencari tanah subur, adat istiadat ikut dibawa dan diwariskan secara turun temurun.

“Saya terinspirasi oleh kisah mama tentang Kozu, padi. Suatu ketika saya dibawa mama ke ladang. Lalu, saat itu saya lihat sebagian kozu, padi hilang. Saya tanya mama. Mengapa sebagian padi hilang. Saat itu mama jawab padi tidak hilang melainkan pergi ke kali. Nanti agak sore akan kembali lagi. Betul, saat sore hari padi utuh lagi. Dari saat itu sampai saat ini, saya sangat menghormati kozu sebagai sumber kehidupan bagi manusia,” tutur Ngapan.

Ngapan melanjutkan, dalam kepercayaan orang Manggarai Timur bahwa padi bisa hilang dibawa oleh roh halus yang menjaga ladang tersebut. Untuk itu, saat warga petani memanen padi di ladang, terlebih dahulu dilangsungkan ritual adat.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Warga petani di Kampung Betong Torok, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT sedang riik kozu (injak padi) untuk memisahkan batang gabah dengan gabahnya di sebuah ladang di dekat kampung tersebut. Di kampung-kampung masih dilaksanakan secara tradisional pada Juli 2016 lalu.

Jika tidak dilaksanakan ritual adat maka penjaga ladang marah dan menyembunyikan padi. Jadi zaman dulu, dilaksanakan upacara adat dengan tari-tarian saat berlangsung Riik Kozu, injak gabah padi. Riik Kozu untuk memisahkan padi dan batang gabahnya.

“Saya bersama guru di SMAN 2 Kota Komba melatih pelajar di Sanggar Uma Lodok mengembangkan kreatifitas dan sendra tari Riik kozu. Hasilnya, beberapa kali dipentaskan sendra tari Riik kozu di Kabupaten Manggarai Timur. Saya bersama guru terus mengembangkan kreatifitas pelajar di SMAN 2 Kota Komba  di bidang budaya,” kata Ngapan.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/04/072300727/Menghormati.Kozu.di.Kampung.Nunur.Manggarai.Timur

Leave a Reply