Menginap Di Kamar Seharga Rp 2 Juta Per Malam Di Pegunungan Tengah Papua

Ungkapan bahwa selalu ada hal baru dalam setiap perjalanan memang tidak salah. Itulah yang dirasakan oleh Kompas.com ketika berkunjung ke Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Kompas.com mengunjungi daerah nan eksotis itu pada pertengahan September lalu. Perjalanan yang dimulai dari Jakarta, transit di Bali, lalu dilanjutkan ke kota Timika itu memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan.

Karena kami berangkat tengah malam, maka saat sampai di Bandara Mozes Kilangan, Timika, kami disambut pagi. Untunglah hari itu cuaca cerah, karena dari sini kami harus menumpang pesawat perintis agar bisa sampai ke wilayah pegunungan.

Nah, petualangan sebenarnya dimulai dari sini. Hati saya langsung berdebar saat melihat pesawat yang akan mengangkut kami. Pesawat itu kecil saja, hanya bisa ditumpangi 7 orang. Warnanya putih ungu dengan baling-baling di moncongnya. Saya berpikir, bagaimana kalau satu mesin baling-baling ini tiba-tiba macet?

Saat saya masih terheran-heran, tiba-tiba kami diminta untuk menimbang badan.  Ternyata selain barang bawaan, penumpang pun harus diukur beratnya untuk menyesuaikan dengan batas bobot maksimal pesawat. Untunglah bobot saya masih masuk. Fiuuuh…

Akhirnya kami pun diminta masuk pesawat. Ternyata penumpangnya hanya kami saja bertujuh. Tidak ada orang lain di luar rombongan kami. Ke mana orang-orang lain? Tidak adakah warga setempat yang naik pesawat?

Ternyata saya segera mendapat jawabannya. Rupanya kami menaiki pesawat yang disewa khusus untuk rombongan ini. Bila menggunakan jadwal penerbangan umum yang harga tiketnya sekitar Rp 700 ribu per orang, kami harus menunggu antrean terbang hingga 3 bulan ke depan.

Menurut informasi dari beberapa orang yang saya temui, dengan jalur khusus ini, harga carter pesawat itu mencapai Rp 35 juta untuk sekali terbang! Padahal lama penerbangan hanya sekitar 25 menit saja untuk sampai ke Distrik Ilaga.

Meski perjalanan sangat pendek, namun naik pesawat kecil di wilayah pegunungan ini sungguh merupakan pengalaman tek terlupakan. Pesawat tak henti bergoyang karena dihempas angin. Suara mesinnya terdengar sampai kabin. Rrrrrrr…..

Untung rasa ngeri itu terbayar oleh pemandangan menakjubkan Gunung Cartenz dan pegunungan tertutup hutan yang diselimuti awan.

Penginapan Rp 2 Juta semalam

Sesampai di Distrik Ilaga kami diantar menuju sebuah bangunan yang terbuat dari kayu. Bangunan itu tampak lebih baru dibanding rumah-rumah lain yang kami jumpai. Ternyata itu penginapan kami selama di Ilaga.

Menurut warga sekitar, bangunan sederhana itu adalah yang terbaik di sini. Konon biaya pembangunannya mencapai Rp 3 miliar. Ya, miliar. Saya sendiri tidak habis pikir, bagaimana uang sebanyak itu “hanya” menghasilkan bangunan seperti ini.

Saya makin kaget saat diberi tahu bahwa biaya penginapan per kamar Rp 2 juta per malam. Saya menduga-duga seperti apa ya bagian dalamnya.

Saat memasuki kamar, kami terkejut melihat apa yang ada di dalamnya. Jangan bayangkan tempat tidur mahal dan furniture mewah tersedia di kamar tersebut. Kami hanya mendapati sepasang kasur busa dan dinding kamar berupa tripleks tipis. Tapi kami maklum, kondisi seperti ini disebabkan karena wilayah itu sangat terpencil dan tidak mudah dikunjungi.

Setelah sejenak berada di kamar, kami segera ingin melihat suasana pegunungan. Cuaca yang sangat dingin, dan hujan yang sering turun memberikan tantangan berbeda selama berkunjung di Distrik Ilaga ini. Sore hari berasa sangat cepat, dan cuaca segera menjadi gelap. Kabut yang turun menambah sepi suasana kota yang sangat jauh dari keramaian ini.

Keesokan harinya kami mengunjungi pasar tradisional Kago, satu-satuya pasar yang ada di Distrik Ilaga. Pasar ini hanya ramai pukul 08.00 hingga pukul 12.00. Selain hasil bumi, di sana juga dijual berbagai bahan makanan yang dibawa dari luar daerah itu. Namun tentu saja harganya berbeda.

Baca juga: Warna-Warni Pasar Tradisional Kago di Pegunungan Distrik Ilaga

Beras Bulog misalnya, dibandrol dengan harga Rp 500 ribu per 15 kg, gula pasir Rp 30 ribu per 6 ons, minyak goreng Rp 50 ribu per liter dan air mineral kemasan kecil Rp 15 ribu, ukuran sedang 600 ml dihargai Rp 25 ribu, sedangkan yang besar ukuran 1 liter harganya Rp 60 ribu.

Melihat harga-harga itu, akhirnya kami tidak jadi belanja apa-apa.

Tidak hanya harga sembako yang tinggi, harga BBM pun sangat tinggi. BBM jenis Premium, Solar dan minyak tanah harganya sama, Rp 50 ribu per liter.

Hal itu pula yang menyebabkan tarif ojek menjadi sangat mahal, yakni Rp 50 ribu setiap 2 km.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Pesawat jenis DHC – 4 T Turbo Caribou milik Pemda Kabupaten Puncak Papua

Tingginya harga sembako, BBM dan kebutuhan pokok lain merupakan akibat mahalnya biaya angkut.  Ini disebabkan belum adanya akses jalan darat ke sana, sehingga pengangkutan hanya dilakukan melalui jalur udara yaitu menggunakan pesawat perintis yang kapasitas angkutnya hanya 1,3 ton.

Namun saat ini di Distrik Ilaga telah dibangun SPBU, dan menjadikan harga bensin jenis Premium  turun drastis dari Rp 50 ribu menjadi Rp. 6.500 per liternya.

Setelah hadirnya SPBU, Pemda Kabupaten Puncak Papua memiliki sebuah pesawat jenis DHC – 4 T Turbo Caribou, sebuah pesawat kargo yang dikhususkan dengan kapasitas 4 ton untuk menggangkut barang. Pesawat ini jauh lebih besar dari pesawat-pesawat lain yang mendarat di sana.

Masyarakat berharap hadirnya pesawat ini bisa mengatasi mahalnya harga sembako, BBM dan kebutuhan pokok lainnya.

Baca: Upacara Bakar Batu Tandai Murahnya BBM di Puncak Papua

Menurut Bupati Kabupaten Puncak, Willem Wandik, adanya pesawat baru ini merupakan solusi cepat dalam mengatasi keterisolasian, dan berdampak besar bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Kabupaten Puncak Papua.

Saya jadi membayangkan, mungkin beberapa bulan ke depan, kamar seharga Rp 2 juta yang saya tempati bakal dilengkapi fasilitasnya menjadi lebih “layak” dihargai dengan uang sebesar itu.

Kompas Video Upacara Bakar Batu di Puncak Papua

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/03/185538027/menginap.di.kamar.seharga.rp.2.juta.per.malam.di.pegunungan.tengah.papua

Leave a Reply