Menikmati Pesta Kopi Di Desa Gombengsari Banyuwangi

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Pada Festival Kembang Kopi yang digelar di Desa Gombengsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (7/9/2016), ratusan pengunjung diajak menyaksikan proses panen kopi rakyat yang dilakukan masyarakat.

Bukan hanya sekadar memanen, mereka juga diajak menyangrai kopi di tengah hamparan kebun kopi di desa yang berada di bawah kaki Gunung Ijen tersebut.

Festival dimulai dengan memanen kopi bersama-sama di Dusun Lerek, Desa Gombengsari Kecamatan Kalipuro. Oleh penduduk sekitar, pengunjung diajari bagaimana cara memetik biji kopi yang telah matang.

Setelah dipetik, kopi merah dimasukkan ke dalam tas khusus yang dikalungkan di leher atau diikat di pinggang.

Desa Gombengsari memiliki lahan kopi rakyat seluas 1.700 hektar dengan lahan murni 850 hektar dan sisanya penanaman kopi dengan cara sistem tumpang sari.

“Warna biji kopi yang dipetik harus berwarna merah. Bukan yang hijau karena masih belum matang dan akan mempengaruhi kualitas serta rasa kopi,” jelas Taufik (45), salah satu petani kopi di Dusun Lerek, Desa Gombengsari kepada KompasTravel.

Taufik memaparkan, setiap halaman rumah warga di desa Gombengsari memiliki pohon kopi jenis robusta yang sudah berusia puluhan tahun dan dipelihara secara turun temurun.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Wisatawan asing dan masyarakat Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur, menyatu menikmati kopi di Festival Kembang Kopi, Rabu (7/9/2016).

Hasil panen biji kopi kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk mengupas kulit kopi dan kemudian dicuci bersih untuk menghilangkan lendir dan kulit ari.

“Ini dengan cara giling basah jadi menggunakan air. Setelah dibersihkan kopi dijemur di bawah sinar matahari di atas para-para agar kering maksimal. Baru terakhir kemudian diselip dalam keadaan kering,” jelas Taufik.

Asmad (55), pemilik selip kering kepada KompasTravel mengatakan, mesin yang dia miliki bisa menggiling sampai 2 ton kopi per hari. Pada musim panen kopi, biasanya ia akan berkeliling ke rumah-rumah petani untuk menggiling kopi kering.

“Tergantung pesanan. Biasanya petani akan membayar Rp 6.000 per kilo. Untuk jam kerjanya biasanya mulai jam 7 pagi sampai jam 7 malam,” jelas Asmad sambil menunjukkan cara kerja mesin gilingnya kepada para pengunjung.

“Kalau sudah besih, kering seperti ini kopi sudah bisa diproses lagi,” katanya sambil memperlihatkan biji kopi hasil gilingannya.

Selanjutnya pengunjung diajak untuk sangrai kopi. Hanya 250 gram yang disangrai tidak boleh lebih agar kematangan merata. Puluhan ibu-ibu mempraktikkan sangrai kopi secara tradisional menggunakan wajan tanah liat dan tungku batu bata.

Pengunjung pun boleh mencoba mengaduk wajan panas yang berisikan biji-biji kopi untuk disangrai. Kopi yang sudah disangrai kemudian didinginkan baru kemudian ditumbuk secara manual.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Petani kopi sedang menjemur kopi di Desa Gombengsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (7/9/2016).

“Ini pengalaman baru buat saya. Selama ini hanya mengetahui minum kopi dan coffee maker. Di sini pengolahan kopi masih secara tradisional,” jelas Ashley Fedor, wisatawan asal New York kepada KompasTravel.

Ia mengaku sangat menyukai kopi dan selalu mengonsumsinya tanpa menggunakan gula. “Saya pernah minum kopi di Vietnam tapi susunya terlalu banyak. Di sini rasanya perfect apalagi saya ikut memetik dan mengolahnya. Pengalamannya itu yang luar biasa,” kata Ashley sambil tetawa.

Mereka kemudian bergabung dengan para pengunjung dan masyarakat untuk menikmati kopi serta jajanan tradisional diiringi musik patrol.

Mochamad Farid Isnaini, Lurah Gombengsari menjelaskan rata-rata petani kopi di daerahnya menghasilkan 1,2 ton kopi per hektar untuk sekali musim panen dengan harga jual biji kopi kering Rp 25.000 per kilogram.

“Selama ini biasanya mereka menjual ke pengepul. Kami berharap ke depan masyarakat bisa mengolah sendiri dalam bentuk bubuk karena harganya lebih mahal,” ungkapnya.

Selama ini setelah di pengepul, kopi asal Gombengsari kebanyakan dijual ke Jampit, Malang dan diberi merek kopi yang berbeda dengan asalnya. Saat ini sudah ada 5 kelompok tani dan 2 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang menaungi perkebunan kopi rakyat di Desa Gombengsari.

Mereka sudah mulai memproduksi bubuk kopi kemasan dengan beberapa merek yang berbeda seperti Kopi Lego, Kopi Seblang Kopi Gandrung, Kopi Lerek, dan Kopi Mas.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Petani kopi menunjukkan hasil kopi rakyat Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jatim, pada Festival Kembang Kopi, Rabu (7/9/2016).

“Mereka juga sudah mulai mengemas wisata kopi untuk wisatawan. Jadi kalau ingin mengenal kopi Banyuwangi, ya ke Gombengsari. Di sini kelurahan yang memiliki lahan kopi terluas di Banyuwangi,” ujar Isnaini.

Sementara itu Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko mengatakan apa yang dilakukan warga di Desa Gombengsari bisa dicontoh desa lain dan mempromosikan potensi desa dengan caranya sendiri.

“Apalagi ini murni ide dari masyarakat yang bisa menjadikan potensi kopi sebagai daya tarik wisata. Warga bisa menjual paket wisata kopi yang pastinya akan menambah penghasilan mereka dan menjadi pilihan wisata bagi mereka yang datang ke Banyuwangi,” kata Yusuf.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/09/060300827/menikmati.pesta.kopi.di.desa.gombengsari.banyuwangi

Leave a Reply