Menikmati Seporsi Mi Kelor Di Banyuwangi

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Suka menikmati mi ayam? Tidak ada salahnya menikmati salah satu mi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Namanya adalah mi kelor yang terbuat dari sari pati daun kelor atau Moringa oleifera dan merupakan tumbuhan dari jenis suku Moringaceae.

Selain berwarna hijau cerah, mi kelor kreasi Nuri Dwi Suryani (41) warga perumahan Araihan Kelurahan Karangrejo, Kabupaten Banyuwangi ini mengandung gizi yang sangat tinggi.

Daun kelor dipercaya mengandung 3 kali potasium dari pada pisang, 4 kali vitamin A dari wortel, 25 kali zat besi dari pada bayam, 7 kali vitamin C jeruk, 4 kali kalsium susu, dan 3 kali protein yoghurt.

Kepada KompasTravel, Minggu (2/10/2016), Nuri mengaku ide membuat mi dari daun kelor muncul ketika anaknya tidak menyukai sayuran. Dia kemudian memutar akal agar anaknya mau makan sayur.

Akhirnya Nuri menggunakan campuran saripati daun kelor ke dalam bahan utama pembuatan mi. Kebetulan suami dan anaknya adalah pecinta mi ayam.

“Awalnya saya coba-coba. Pernah menggunakan kangkung tapi hasil minya tidak bagus dan ada juga pelanggan yang bilang tidak makan kangkung. Pernah juga pakai bayam terus ada yang bilang katanya linu-linu kalau makan bayam. Akhirnya yang netral ya kelor. Apalagi kelor kan banyak kandungan gizinya,” jelasnya.

Biasanya satu kilo bahan mi akan dicampur dengan saripati yang diambil dari 6 ranting daun kelor. Nuri memilih yang menggunakan daun yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua sehingga warna yang dihasilkan cukup bagus.

“Daun kelor saya blender dengan air kemudian dicampur dengan tepung dan bahan lainnya. Gitu saja. Sederhana,” katanya.

Untuk membuat mi, Nuri dibantu oleh suaminya Slamet (46). Pasangan suami istri tersebut membuat mi di rumahnya sendiri dan menerima pesanan pembuatan mi dari orang lain.

Setelah uji coba membuat mi kelor, Nuri yang sudah tiga tahun berjualan mi ayam di Pasar Pujasera Karangrejo Banyuwangi tersebut memberanikan diri memasukkan mi kelor dalam menu di warung mi ayamnya sejak 4 bulan terakhir.

“Kalau ada yang pesen biasanya saya tawarin mau mi ijo. Biasanya pelanggan tanya warna hijaunya pake pewarna apa nggak? Di situ saya bilang warna hijaunya dari daun kelor,” jelasnya.

Nuri mengaku tidak kesulitan untuk mencari dan kelor karena banyak di sekitar pekarangan rumahnya. “Nggak usah beli. Jadi harganya mi kelor atau mi yang biasa ya sama saja, Rp 6.000 per porsi,” katanya.

Karena tidak menggunakan pengawet, mi milik Nuri hanya bertahan maksimal dua hari. Seporsi mi kelor milik Nuri memiliki tekstur yang kenyal dan lembut saat disantap apalagi dilengkapi dengan topping potongan daging ayam yang cukup banyak.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/03/063500827/menikmati.seporsi.mi.kelor.di.banyuwangi

Leave a Reply