Menjajal Kue Untuk Sesajen Di Bali

GIANYAR, KOMPAS.com – Mencari kuliner khas di Bali itu susah-susah gampang. Anda harus tau tempat dan waktu yang tepat untuk membeli makanan khas Pulau Dewata. Kebanyakan kuliner khas bisa didapat di pasar tradisional, pada pagi atau sore hari. Saya yang sampai di Pasar Sukawati pada siang hari jelas kesulitan mencari kuliner khas Bali.

Beruntung saya mendapati lapak kue Ibu Reken di Pasar Sukawati yang menjual kebutuhan sehari-hari, Kamis (29/9/2016). Letak pasar ini berada persis di seberang Pasar Sukawati yang menjual cinderamata khas Bali.

“Bu ini kue buat sesajen ya?” kata saya. Ibu Reken menjawab, “Iya. murah-murah ini, mari dibeli,” katanya.

Saya kemudian ragu, memangnya boleh kue buat sesajen ini dikonsumsi?

“Ya boleh, enak-enak loh kuenya,” kata ibu Reken.

Jelas boleh sekali kue tradisional khas Bali ini dikonsumsi. Sebagai informasi, mengonsumsi kue dari sesajen yang telah disembahyangi menurut kepercayaan Hindu Bali dapat memberi berkat bagi pemakannya. Asalkan kue sesajen masih dalam keadaan layak konsumsi. 

Kompas.com/Silvita Agmasari Ibu Reken, penjual kue tradisional khas Bali di Pasar Sukawati, Gianyar, Bali.

Kios Ibu Raken ini menjual banyak sekali jenis kue dengan ukuran kecil. Banyak yang nampak asing dan tak pernah saya lihat sebelumnya. Namun ada pula kue yang tak asing seperti bolu, brownies, juga camilan lain seperti keripik pisang dan emping melinjo.

Dengan sabar Ibu Raken menjelaskan, “Kalau yang itu namanya gunting-gunting, dari terigu, telur, dan kelapa. Buatnya digunting-gunting,” kata Ibu Raken menunjukan kue yang berbentuk segitiga. Rasanya seperti kue cincin atau kue donat tradisional khas Indonesia dengan rasa kelapa.

Ada juga onde-onde donat alias kue donat tapi dalam bentuk yang mini dan tanpa topping. Kemudian, jajan uli dan jajan begino kue dengan warna merah muda cerah, campuran ketan dan kelapa.

Kompas.com/Silvita Agmasari Lapan Ibu Reken yang menjual ragam kue tradisional Bali di Pasar Sukawati.

Selanjutnya ada emping, bukan melinjo melainkan dari jagung kering. Hampir mirip popcorn dengan rasa gula. Kue tradisional Bali ini umumnya terbuat dari tepung terigu, tepung beras, kelapa, dan gula.

Karena begitu menggoda selera, akhirnya saya mengambil tujuh jenis kue. “Berapa ini bu?” kata saya sembari memberi sekantung plastik berisi macam kue.

“Ini seribu, ini dua ribu, ini juga, ya jadi semua sepuluh ribu,” kata Ibu Reken.

Saya cukup terkejut karena harga kuenya sangat murah. Apalagi beberapa jenis kue berisi tiga sampai empat kue dalam satu plastik. Jadilah kue tradisional khas Bali ini menjadi camilan yang menemani perjalanan saya berwisata di Pulau Dewata.

Ibu Reken menjual kue tradisional khas Bali ini dari pukul 04.00 sampai 19.00 Wita di Pasar Sukawati, Gianyar. Tak sulit menemui lapak jualannya, bentuknya kaki lima dan terletak persis di bagian depan Pasar Sukawati. Menurut Ibu Reken, jika sore hari semakin banyak penjual makanan khas Bali di pasar ini.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/04/052000127/menjajal.kue.untuk.sesajen.di.bali

Leave a Reply