“Ngubek Leuwi” Di Muara Cipasarangan

TIGA ribu orang, termasuk Bupati Garut Rudi Gunawan dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, berbasah-basah mengubek “leuwi” (lubuk) Sungai Cipasarangan. Di atas panggung, musik tradisional Sunda terus menggema. Itulah puncak tradisi tahunan ngubek leuwi, yakni mencari ikan dengan tangan kosong di muara Cipasarangan Desa Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (9/7/2016).

Tradisi ngubek leuwi merupakan ungkapan rasa syukur warga Cikelet atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT, terutama kesehatan, setelah melaksanakan ibadah puasa satu bulan Ramadhan. Kebahagiaan itu mereka sempurnakan dengan berkumpul bersama sanak keluarga saat Lebaran.

Menurut budayawan yang juga warga Cikelet, Iip Sarip Hidayana, kegiatan itu sekaligus ditujukan untuk menggugah kesadaran terhadap pelestarian daerah aliran sungai (DAS) yang selama ini menopang kehidupan warga.

Apalagi, kesadaran masyarakat memelihara lingkungan, termasuk hulu Sungai Cipasarangan, semakin mengendur. Ada sekelompok orang yang justru berperilaku merusak sumber air di hulu sungai.

Padahal, Desa Cikelet merupakan salah satu daerah potensial pariwisata di Jawa Barat yang terletak di ujung selatan Kabupaten Garut. Pantainya bersih. Kecamatan Cikelet memiliki kekayaan budaya sangat khas, yaitu Kampung Adat Dukuh, yang teguh mempertahankan identitas tradisi kampung Sunda lama.

Kampung adat itu terletak di kaki Gunung Dukuh sekitar 10 kilometer dari pusat Kecamatan Cikelet. Salah satu falsafah hidupnya di bidang pelestarian alam adalah ulah coba-coba motong iwung bitung di tonggoh sabab bisa edan salelembur, yakni melarang setiap pengambilan pohon di lereng gunung karena bisa mengakibatkan orang sekampung tidak waras.

Falsafah itu sudah dijalankan sejak beratus-ratus tahun lalu sehingga tidak ada yang berani melanggarnya karena takut gila. “Kalaupun ada pohon yang tumbang di atas, tidak boleh diambil dan harus dibiarkan busuk,” kata Rosyid (66), tokoh masyarakat Cikelet.

Mengapa hutan di atas kampung itu dikeramatkan? Kawasan ini merupakan lereng pegunungan yang curam. Luasnya 10 hektar dan merupakan daerah tangkapan air, termasuk mata air Sungai Cipasarangan. Jika hutan ini terganggu, selain warga kampung di bawahnya akan kesulitan air, bahaya longsor juga mengancam mereka.

Membabat hutan

Namun, reformasi 1998 telah mengembuskan angin buruk bagi kawasan hutan di hulu Sungai Cipasarangan. Sejak itu, sekelompok orang tidak bertanggung jawab mencuri kayu dengan membabat hutan yang selama ini menjadi sumber air. Akibatnya, pada akhir 2010, banjir bandang menghantam Cikelet.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/04/141000227/.Ngubek.Leuwi.di.Muara.Cipasarangan

Leave a Reply