Orang Indonesia Kurang Menghargai Teh…

KOMPAS.com – “Coba lihat, di rumah, kita pasti punya stok teh bukan? Teh memang jadi kebutuhan sehari-hari untuk orang Indonesia. Namun kenapa begitu ada tamu, biasanya kita bilang, ‘maaf ya adanya cuma teh’,” tutur Ratna Somantri.

Pakar teh itu mengungkapkan, apresiasi orang Indonesia terhadap teh masih sangat minim. Padahal, Indonesia adalah negara penghasil teh terbesar ketujuh di dunia.

“Beda dengan orang luar negeri yang sangat menghargai teh. Sebut saja Inggris, China, Jepang.. Mereka punya tradisi minum teh. Ini sesuai dengan sejarahnya, dulu teh hanya boleh diminum oleh keluarga kerajaan atau keluarga kaisar,” papar Ratna di sela-sela konferensi pers peluncuran Teavana di Starbucks Kota Kasablanka, Rabu (7/9/2016).

Penulis buku ‘The Story in a Cup of Tea’ itu kemudian menjelaskan. Kebun teh pertama di Indonesia hadir sekitar abad ke-17. Pada masa itu, minum teh adalah kegiatan yang sangat trendy di Eropa.

“Kemudian dibuatlah kebun-kebun teh oleh Belanda. Sampai Indonesia merdeka, teh adalah salah satu komoditas ekspor utama,” tambahnya.

Kebun teh kemudian menggurita di berbagai pelosok Indonesia, terutama Pulau Jawa. Oleh karena pasokan yang banyak, harga teh pun menjadi murah.

“Itulah mengapa teh identik dengan sederhana, orang tua. Padahal kita perlu mengapresiasi teh lebih dari itu. Indonesia juga punya teh yang diekspor ke mancanegara,” papar Ratna.

Tribun Jogja/Hamim Thohari Pemetik teh di Kebun Teh Tambi, Wonosobo.

Teavana misalnya, merk speciality tea yang diakuisisi Starbucks memiliki dua varian teh dari Indonesia.

“Di negara asalnya (AS), Teavana punya ratusan jenis speciality tea dari berbagai negara. Ada dua jenis teh dari Indonesia, salah satunya Golden Black Tea,” tuturnya. 

Hadirnya Teavana di gerai Starbucks Indonesia diharapkan bisa “mengangkat derajat” teh sebagai minuman yang kaya cita rasa layaknya kopi.

“Orang Indonesia kurang menghargai teh. Padahal dari segi rasa, teh sangat enak jika dicampur berbagai buah atau bunga. Tidak lagi ada kata ‘cuma’ sebelum kata ‘teh’,” tutupnya.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/08/170800627/orang.indonesia.kurang.menghargai.teh.

Leave a Reply