Perbedaan Itu Melebur Di Kawasan Kuliner Pecinan Makassar

MAKASSAR, KOMPAS.com – Bagi wisatawan pencinta kuliner jika berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan jangan lupa mampir di kawasan kuliner pecinan di Jalan Bali. Kawasan kuliner pecinan yang mayoritas pedagangnya etnis Tionghoa menjajakan berbagai macam makanan dan minuman unik.

Kawasan kuliner pecinan hanya buka sekali seminggu yakni hari Sabtu mulai pukul 17.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita. Tenda-tenda pedagang berjejer sepanjang Jalan Bali, Jalan Sumba dan Jalan Bonerate.

Untuk bisa mencapai kawasan kuliner yang tertetak di sebelah Kelenteng Xiang Ma, harus melalui Jalan Sulawesi. Kendaraan pun diperbolehkan masuk ke kawasan kuliner dan hanya bisa parkir di Jalan Sulawesi.

Meski namanya kawasan kuliner pecinan, namun semua makanan dan minuman diperjualbelikan untuk umum alias halal untuk semua orang. Bahan-bahan yang digunakan pun adalah bahan makanan yang diperjualbelikan secara bebas.

Pedagang makanan dan minuman di kawasan kuliner bukan hanya etnis Tionghoa saja, melainkan pribumi asal Sulsel. Sehingga perbedaan antara etnis menyatu di kawasan Kuliner Pecinan.

Komunikasi dan canda tawa antara etnis Tionghoa dan pribumi terjadi di kawasan kuliner tersebut. Pengunjung tiap malam Minggu mencapai ribuan orang.

Keunikan dari makanan dan minuman khas Tionghoa dan Makassar di kawasan kuliner pecinan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga 25.000.

Makanan unik favorit di kuliner pecinan seperti pizza corn, bakso boom berukuran besar, toyaki dan lainnya. Demikian pula dengan minuman unik yang menjadi perhatian pengunjung di antaranya minuman yang dikemas dalam botol infus dan balon lampu.

Selain makanan dan minuman disajikan, pengelola kawasan kuliner pecinan yakni Kecamatan Wajo dibawah naungan Pemerintah Kota Makassar juga menyediakan hiburan berupa barongsai dan elekton. Warga silih berganti berkaraoke menyanyikan lagu kesukaannya.

“Meskipun tergolong baru, tapi kawasan ini sudah mendapat animo besar dari warga lokal, maupun turis yang berkunjung ke Makassar,” kata petugas Kecamatan Wajo, H Andi Musyawarah.

Menurut Andi, selain bisa menjadi sumber perekonomian warga, kegiatan ini juga bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan berbagai macam makanan Sulawesi Selatan maupun Tionghoa.

“Saking antusiasnya warga, para pedagang malah menginginkan agar waktu berdagang ditambah, nggak cuma hari Sabtu. Bahkan sudah banyak yang minta tiap hari digelar kawasan kuliner pecinan ini,” kata Andi.

Andi memaparkan, kawasan kuliner pecinan ini juga menjadi ajang tempat mencari jodoh. “Jadi, jika kamu main ke sana, kamu bisa sekalian cuci mata. Siapa tahu bisa dapat kenalan kece. Rugi kalau tidak berkunjung di kawasan kuliner pecinan menghabiskan malam Minggu bersama keluarga, teman, pacar,” tambah Andi.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/04/211100227/Perbedaan.Itu.Melebur.di.Kawasan.Kuliner.Pecinan.Makassar

Leave a Reply