Pesona Kawah Ijen Tak Hanya “Blue Fire”!

KOMPAS.com– Dini hari biasanya orang sedang asyik terlelap. Namun, tidak begitu yang terjadi di Gunung Ijen, di Bondowoso, Jawa Timur.

Saat dingin masih menusuk tulang, waktu sekitar tiga per empat malam, aktivitas di Gunung Ijen justru menggeliat. Para pendaki mulai bersiap mendaki ke kawah gunung ini.

Dengan medan tanah berpasir dan sesekali bebatuan terjal, wisatawan butuh waktu normal mendaki sekitar 3-4 jam. Hawa dingin akan berjibaku dengan beban yang harus ditumpu kaki selama mendaki dengan kemiringan 40 derajat.

Namun, langkah dan aktivitas para pendaki tak surut. Apa sih yang mereka buru?

(Baca juga: “Backpacker” ke Ijen via Bondowoso, Ini Rutenya)

Blue fire. Itu tujuan para pendaki sampai rela bersusah payah mendaki ke kawah di ketinggian 2.443 meter dari atas permukaan laut.

Mereka menunggu semburan api biru yang muncul dari Kawah Ijen. Ijen adalah satu dari dua lokasi di dunia yang punya fenomena tersebut, selain di Islandia.

“Menakjubkan, tempat ini ternyata indah sekali,” kata Fred, turis asal Perancis yang menyaksikan langsung kobaran blue fire, seperti dikutip Kompas.com, Minggu(24/11/2013).

Api berwarna biru terlihat bergoyang di puncak gunung, dari dini hari hingga menjelang fajar. Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah antara pukul 02.00 WIB hingga 03.00 WIB.

Reza Pahlevi/Kompas.com Penanjakan Kawah Ijen

Pesona api biru Kawah Ijen telah mendunia. Banyak wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke kawah yang punya kedalaman 200 meter dan luas 5.466 hektar tersebut.

Merujuk, Kompas.com, Jumat (15/1/2016), pada 2015 lebih dari 40.000 wisman berkunjung ke Kawah ijen. Adapun turis yang paling mendominasi berasal dari Perancis dan China.

Namun, setiap pendaki ke kawah ini harus tahu benar risiko di balik pesona “blue fire”, agar bisa selalu waspada. Ada asap dan bau belerang yang berbahaya bila sampai terhirup berlebihan, sekalipun sudah memakai masker.

Nah, untungnya, pesona kawasan Ijen juga bukan hanya blue fire.

Melihat para penambang belerang di kawah ini, bisa jadi tontonan mempesona tersendiri. Mereka bekerja dengan alat seadanya dan memakai cara konvensional.

Tontonan yang bisa menakar nyali diri sendiri.

KOMPAS/HARRY SUSILO Petambang sedang mengambil belerang di kawasan Kawah Ijen, Jawa Timur, Selasa (12/11/2013). Dalam sehari, seorang petambang dapat membawa belerang 60 hingga 140 kilogram dengan imbalan Rp 780 per kilogram. Untuk menambah penghasilan, sebagian dari petambang juga berprofesi sebagai pemandu wisata bagi turis yang berkunjung ke kawah di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso tersebut.

Para penambang ini turun ke dasar kawah dan mengumpulkan bongkahan belerang. Bongkahan itu lalu mereka pikul ke tempat penampungan di puncak gunung.

Semua aktivitas penambangan belerang tersebut dilakukan memakai tangan dan tenaga manusia saja. Banyak turis berdecak melihat keberanian dan kekuatan otot para penambang ini.

Lalu, momen matahari terbit di atas puncak Gunung Ijen, juga bisa jadi pesona tersendiri. Panorama yang terhampar di depan mata setelah matahari memperlihatkan diri, menjadi pesona berikutnya.

Dari puncak gunung ini, pengunjung bisa melihat jauh menyeberangi daratan, bahkan sampai melihat puncak Gunung Merapi di Yogyakarta yang ada di timur Kawah Ijen.

Gunung-gunung lain juga seolah menyembul di balik awan, seperti puncak Gunung Raung, Gunung Suket, dan Gunung Rante, yang semuanya ada di sekitar Gunung Ijen.

Mengabadikan momen

Sama seperti tempat rekreasi lainnya, mendaki ke Kawah Ijen wisatawan dikenakan juga biaya masuk. Bagi wisatawan domestik tiketnya Rp 5.000 per orang pada hari kerja dan Rp 7.500 per orang pada hari libur.

Adapun untuk wisman, tiket masuk dibanderol Rp 100.000 per orang pada hari kerja dan Rp 150.000 per orang pada hari libur.

Kalau tiket sudah bayar, mendaki juga tak ringan, maka mengabadikan perjalanan adalah pilihan yang masuk akal. Dokumentasi foto diri berlatar pesona kawah ini adalah salah satunya.

ARSIP KYLOR MELTON Kylor Melton, seorang wisatawan asal Selandia, di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebelumnya, harap dicatat, ada biaya tambahan bagi wisatawan yang membawa perlengkapan dokumentasi. Sayangnya, peralatan dokumentasi khusus seperti kamera apalagi kamera video dikenakan biaya tambahan saat masuk kawasan ini.

Untuk setiap kamera foto, ada tambahan ongkos Rp 250.000 per unit. Adapun kamera video terkena biaya Rp 1 juta per unit.

Tenang, ada solusinya. Biar tak terkena tambahan biaya, Anda sekarang bisa menggunakan ponsel kamera untuk mengabadikan momen di sini.

Terlebih lagi, kamera ponsel juga sudah punya teknologi yang memungkinkan potret diri tetap menghasilkan gambar optimal sekalipun diambil di tempat minim cahaya. Latar belakang api biru pun tetap akan bisa terekam tanpa perlu khawatir terjadi efek backlight.

Resolusi juga bukan lagi masalah untuk ponsel kamera. Oppo F1s, misalnya, punya resolusi 16 MP untuk kamera depannya dengan dukungan sensor 1/3, serta aperture f/2.0.

Oppo Indonesia Fitur beautyfy 4.0 pada ponsel Oppo F1s

Ponsel ini pulnya pula dukungan fitur Screen Flash Selfie, memastikan gambar diri memakai kamera depan tak akan low exposure. Hasil potret diri akan terlihat cerah.

Kalau mau hasil selfie yang berbeda, pengguna juga bisa memanfaatkan fitur Selfie Panorama untuk latar dan hasil foto di mengitari area 120 derajat.

Berani coba?

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/26/142405227/pesona.kawah.ijen.tak.hanya.blue.fire.

Leave a Reply