Riam Berasap, Potensi Wisata Alam Perbatasan Di Kabupaten Sambas

SAJINGAN, KOMPAS.com – Gemericik air yang mengalir dari ketinggian di antara bebatuan granit raksasa siang itu terdengar dari kejauhan. Langkah kaki pun dipercepat memadu waktu diantara sinar matahari yang menerobos masuk dari celah dedaunan.

Rasa penasaran setelah menempuh 30 menit perjalanan trekking dari parkiran kendaraan terbayar ketika bulir air seperti asap terbawa angin menyapa kulit.

Air Terjun Riam Berasap yang terletak di Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat memiliki potensi dan peluang yang besar dalam menarik minat kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara khususnya dari negara Sarawak, Malaysia.

“Riam” dalam bahasa setempat artinya “air terjun”, sedangkan “berasap” berasal dari kata “asap” untuk menggambarkan percikan bulir air terjun yang terbang terbawa angin yang terlihat seperti asap dari kejauhan.

Jelang siang di hari Minggu pertengahan September 2016 lalu, ratusan warga silih berganti memadati kawasan air terjun itu. Mereka terlihat gembira dan melepas penat dengan mandi di bawah air terjun. Sebagian dari mereka terlihat bersama keluarga.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Pengunjung saat menikmati suasana Air Terjun Riam Berasap yang terletak di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Masing-masing mencari tempat terbaik untuk tempat berkumpul dan beristirahat, sembari menikmati bekal makanan yang dibawa.

Riam ini berada di antara perbukitan yang masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Gunung Puai. Gugusan perbukitan yang memanjang dan bersambung hingga ke perbatasan.

Untuk menuju air terjun ini bisa dibilang membutuhkan waktu tempuh perjalanan yang cukup panjang dari kota Pontianak. Dengan jarak tempuh sekitar lebih dari 350 kilometer dari kota Khatulistiwa, dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Sedangkan dari kota Kuching, Sarawak, hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam perjalanan darat.

Kondisi hutan yang masih bagus, ditambah gemericik air terjun yang berbaur dengan kicau burung, membuat suasana betah untuk berlama-lama di sana. Kawasan ini dikelola oleh sekelompok pemuda kampung setempat yang menerapkan retribusi sebesar Rp 5.000 untuk setiap pengunjung.

Mereka juga mengelola lahan parkir, sehingga pengunjung tak perlu khawatir meninggalkan kendaraan mereka di bawah. Kelompok yang didominasi anak muda ini, selain menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung, mereka juga membersihkan sampah yang ditinggal pengunjung.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Pengunjung saat menikmati suasana Air Terjun Riam Berasap yang terletak di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Sim Chin Kiong, salah satu wisatawan dari Kuching, Sarawak saat bertemu di kaki bukit merasa terkesan dengan panorama Air Terjun Riam Berasap yang indah dan menawan.

Pemilik travel agent Bombastic Borneo ini kerap membawa tamu dari negaranya maupun wisman menjelajahi berbagai potensi alam dan budaya yang ada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

“Potensi ini mestinya dikelola dengan serius oleh pemerintah Indonesia. Saya dan istri yang suka travel ini sering mengunjungi Kalimantan Barat. Indonesia kaya akan wisata dan budaya,” kata Sim yang saat itu datang ditemani istrinya.

Meski diakuinya wilayah perbatasan yang berada di Indonesia memiliki potensi wisata, ia juga mengeluhkan infrastruktur jalan terutama akses masuk ke Indonesia yang saat ini hanya bisa melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong di Kabupaten Sanggau untuk bisa membawa kendaraan pribadi.

Padahal, lanjut Sim, di Aruk yang berbatasan dengan kampong Biawak-Lundu juga memiliki PLBN, namun kendaraan belum bisa melintas lewat border tersebut. “Ini terlalu membuang waktu perjalanan jika harus lewat Entikong, karena rute yang dilalui harus memutar dan itu cukup jauh,” ujarnya.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Pengunjung saat menikmati suasana Air Terjun Riam Berasap yang terletak di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Melirik potensi besar industri wisata di perbatasan yang dimiliki Indonesia, tentu ini sebuah peluang untuk mendatangkan wisatawan asal Malaysia melalui konsep ekowisata dan cross-border tourism.

Apalagi, dengan semakin terbukanya akses dan jalur darat, berpotensi menghidupkan perekonomian masyarakat, salah satunya dari sektor pariwisata.

Saat ini tergantung bagaimana dengan komitmen pemerintah daerah dalam memanfaatkan peluang yang besar tersebut, yang jelas secara tidak langsung akan berdampak pada pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata dan sektor turunan lainnya.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/10/101100527/riam.berasap.potensi.wisata.alam.perbatasan.di.kabupaten.sambas

Leave a Reply