Sejarah Mooncake, Nenek Moyang Kue Pia Di Indonesia

Oleh: Aji Chen Bromokusumo

Dalam penanggalan Tionghoa, awal musim gugur dirayakan tanggal 15 bulan 8 penanggalan Tionghoa, yang tahun ini jatuh pada tanggal 15 September 2016.

Perayaan datangnya musim gugur ini ada kemiripannya dengan perayaan Thanksgiving Day di Amerika. Jika pada Thanksgiving Day orang memanjatkan syukur karena hasil panen yang melimpah, maka di Mid Autumn Festival, rakyat Tiongkok mensyukuri awal panen sebelum memasuki musim dingin.

Tapi ada juga pendapat bahwa esensi Thanksgiving di Amerika lebih mirip dengan perayaan Winter Solstice Festival (Dongzhi Festival), yang di Indonesia dikenal dengan nama “sembahyang ronde” di bulan Desember.

Apa yang diperingati dan bagaimana asal usul peringatan musim gugur ini? Banyak sekali versi, baik di Tiongkok sendiri maupun di negeri-negeri lain yang masih berakar budaya sama seperti Jepang dan Vietnam. Mereka bahkan mempunyai hikayat sendiri tentang perayaan musim gugur ini.

Legenda Hou Yi dan Chang E

Salah satu cerita soal perayaan ini tak lepas dari legenda Hou Yi dan Chang E, meski ia sendiri memiliki beberapa versi. Ada yang bilang Hou Yi ini dulunya adalah dewa, ada juga yang berkisah, dia adalah raja tiran yang kejam, dan masih ada beberapa versi lain.

Versi yang terhitung paling populer adalah cerita 10 matahari. Konon dulu Bumi dikelilingi oleh 10 matahari. Suatu hari ke 10 matahari bersinar bersamaan dan mengakibatkan kekeringan hebat di mana-mana.

Penguasa Langit, yang disebut dengan Kaisar Langit mengadakan sayembara untuk memanah 9 matahari dan meninggalkan satu untuk kehidupan di Bumi.

Pemanah Hou Yi mencoba dan berhasil memanah 9 matahari. Kaisar Langit senang dan bertanya kepada Hou Yi mau hadiah apa. Hou Yi hanya ingin menikahi gadis yang dicintainya yaitu Chang E. Kemudian menikahlah mereka. Perayaannya begitu meriah.

Setelah menikah, Kaisar Langit kebetulan ingin merombak istananya, dan memanggil Hou Yi yang bukan saja seorang pemanah ulung tapi juga seorang arsitek mumpuni.

Proyek pemugaran istana langit berhasil dengan sukses. Saking senangnya, Kaisar Langit menghadiahkan sebotol ramuan untuk kehidupan abadi dengan catatan harus berbagi dengan istrinya, supaya Hou Yi dan Chang E bisa hidup berdampingan selamanya sekaligus mencapai keabadian.

Sedemikian gembiranya, Hou Yi segera berlari ke rumah, dan menunjukkan pil keabadian itu. Karena senangnya, si istri, Chang E, langsung membuka botol tersebut dan menenggaknya sampai habis.

Karena “over dosis”, seketika itu juga Chang E pingsan, terjatuh ke lantai dan pada saat yang sama tubuhnya terasa ringan. Ia melayang ke langit. Merasa terkejut, Chang E menyambar apa saja untuk berpegangan agar dia tidak terbang ke langit.  

Salah satu benda yang dijadikan pegangan adalah kandang kelincinya yang berisi kelinci putih. Namun proses melayang berlanjut terus, dan akhirnya ia terdampar di bulan bersama kelincinya itu. Konon, sampai sekarang, kelinci itu bisa terlihat jika bulan sedang bulan purnama.

Untung keajaiban masih berpihak kepada pasangan Hou Yi dan Chang E. Setahun sekali, pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan China, akan muncul jembatan yang menghubungkan bumi dan bulan, sehingga pasangan itu dapat bertemu dan memadu kasih di hari itu.

Revolusi Ming 

Cerita lain terkait asal-usul Festival Tiongciu bermula saat Tiongkok dikuasai Mongol, ketika kerajaan Mongol di bawah Dinasti Yuan (1280 – 1368) berkuasa – ada yang menyebutnya Dinasti Goan (beda dialek pengucapan saja).

Bagi yang suka baca atau nonton cerita silat, inilah jamannya Sin Tiau Hiap Lu (Yo Ko – Siao Liong Li) di mana kota Siang Yang akhirnya jatuh ke tangan orang Mongol dan seluruh China ada di bawah kekuasaan dinasti baru, Yuan.

Dalam kurun waktu itu, pemberontakan untuk menumbangkan Dinasti Yuan berlangsung terus, dan belum pernah berhasil.

Akhirnya di kisaran tahun 1360an, timbul gerakan bawah tanah, yang dipimpin oleh seorang petani bernama Zhu Yuanzhang, yang memimpin gerakan perlawanan kepada penjajah Mongol.

Zhu dan penasehatnya Liu Bowen menyebarkan desas-desus bahwa ada penyakit tak tersembuhkan dan hanya bisa dicegah dengan memakan kue bulan (mooncake) yang sudah dipersiapkan secara khusus yang kebetulan jatuh pada mid autumn, yaitu tanggal 15 bulan 8.

Arsip Hotel JW Marriott Jakarta Kue bulan chocolate and custard milk dan white lotus paste with black sesame

Ternyata itu adalah satu cara untuk menyebarkan surat kepada sebagian besar rakyat yang mendukung pemberontakan menggulingkan penguasa Mongol.

Penulisan pesan rahasia dilakukan dengan cara khusus dalam 4 buah mooncake, dan dikemas dalam 1 kotak. Masing-masing mooncake itu harus dipotong menjadi 4 bagian, sehingga total mendapatkan 16 potong yang kemudian harus dirangkai sedemikian sehingga pesan rahasia dapat terbaca.

Ada juga versi yang mengatakan bahwa pesan rahasia tersebut ditulis di kertas dan dimasukkan di tengah mooncake.

Versi keren dari kisah kepahlawanan ini dapat kita baca di buku Golok Pembunuh Naga (Yi Tian Tu Long Ji/To Liong To), dengan tokohnya Thio Bu Ki dan Tio Beng. Di dalam cerita silat ini disebutkan bahwa Zhu adalah salah satu bawahan dari Thio Bu Ki.

Di samping itu, masih ada lagi novel karangan Ching Yun Bezine dengan judul River of Lanterns, (versi bahasa Inggris, terbitan Signet dan versi bahasa Indonesia, terbitan Gramedia tahun 1995).

Singkat cerita, Dinasti Yuan tumbang, dan bergantilah menjadi Dinasti Ming (1368 – 1644) dengan kaisar pertama adalah Zhu Yuanzhang. Untuk mengenang perjuangan dan titik balik berdirinya Dinasti Ming, sejak saat itu, mid autumn diperingati secara rutin sampai sekarang.

Mooncake/Kue Bulan

Dalam perayaan Tiongciu, kini kita lazim menjumpai kue bulan. Mooncake ini adalah salah satu sajian khas dari China, dan banyak terdapat di mana-mana pada saat Mid Autumn Festival setahun sekali, terkecuali di Jepang, yang katanya tersedia sepanjang tahun, dan dikenal dengan sebutan “Geppei”.

Secara umum, mooncake ini berbentuk bundar atau persegi dengan diameter berkisar antara 10 cm, dan ketebalan 4-5 cm. Isi berupa pasta padat dan liat berada dalam kulit tipis sekitar 2-3 mm.

Di tengah mooncake itu biasanya berisi kuning telor asin, bisa sebutir, 2 butir, bahkan 4 butir. Ini menjadikan mooncake tergolong makanan berat, kaya dengan rasa, dibandingkan dengan kebanyakan pastry model barat.

Isi dari mooncake biasanya manis, sedikit berminyak. Kuning telor asin di dalamnya menyimbolkan bulan purnama dan uang emas. Ini sesuai dengan budaya Tionghoa, di mana segala jenis perayaan biasa dihubungkan dengan kesejahteraan, kemakmuran, kebahagiaan, panjang umur, atau kesehatan.

Pada kulit mooncake biasanya dicetak huruf-huruf Mandarin seperti “longevity”, “harmony”, nama dari toko atau keluarga pembuat, atau gambar bulan purnama, kelinci, dan lainnya.

Aji Chen Bromokusumo Berbagai jenis hiasan Mooncake dan kemasannya

Secara tradisional mooncake isinya bisa dibagi menjadi 4, yaitu:

•             Lotus seed paste (lian rong): yang dianggap paling mewah, paling berharga dan paling lezat. Di beberapa tempat, karena harga lotus seed paste mahal dan barangnya langka, maka kadang juga digunakan white kidney bean sebagai bahan tambahan pengisi.

•             Sweet bean paste (dou sha, sering dilafalkan tau sa di Indonesia), paling banyak terbuat dari azuki beans, sehingga dikenal dengan nama red bean paste. Tapi di beberapa tempat lain terbuat dari Mung bean atau black bean. Ini juga sebabnya banyak kue di Indonesia, bila dikatakan berisi “tau sa” biasanya berwarna hitam.

•             Jujube paste, berbentuk pasta yang manis, terbuat dari buah yang masak dari tumbuhan jujube. Warna dari pasta ini biasanya merah gelap, sedikit asam, ada aksen rasa seperti diasap. Kadang bisa dibingungkan antara jujube paste dan red bean paste. Isi jujube paste ini hampir-hampir tidak pernah dijumpai di Indonesia, karena tidak populer sama sekali.

•             Five kernel, isinya 5 macam kacang-kacangan dan biji-bijian yang dicincang kasar, dan direkatkan satu sama lain dalam mooncake dengan maltose syrup.

Jenis-jenis Kulit Mooncake

•             Chewy: inilah yang sekarang paling populer di mana-mana dan banyak dijumpai di seluruh dunia. Kulit mooncake ini paling banyak disukai dan sudah menembus lintas batas benua. Terbuat dari bahan-bahan sirup gula kental, lye water, tepung dan minyak.

•             Flaky: jenis yang ini lebih dikenal dengan nama Suzhou-style mooncake. Adonan kulitnya dibuat dengan menggulung adonan yang terdiri dari minyak dan tepung. Rasa dan tekstur hampir sama dengan model pastry barat atau puff pastry.

•             Tender: di beberapa provinsi di China dan beberapa tempat di Taiwan, jenis ini banyak juga.

Sementara berdasarkan gaya atau style-nya, mooncake dikategorikan menjadi:

•             Cantonese-style mooncake: ini yang paling mendunia, berasal dari provinsi Guangdong, dan di tempat asalnya terdapat lebih dari 200 variasi.

•             Suzhou-style mooncake: bermula dari ribuan tahun lalu, campuran yang royal dari lemak binatang dan gula serta tepung. Model yang ini banyak juga terdapat di Indonesia.

•             Beijing-sytle mooncake: ada 2 variasi, yang satu disebut dengan di qiang, yang lebih mirip dengan Suzhou style. Dan satu lagi disebut dengan fan mao, di mana rasanya cenderung lebih flaky.

•             Chaoshan (Tiociu)-style mooncake: ini juga flaky tapi lebih memiliki diameter yang lebih besar daripada Cantonese-style, tapi lebih tipis. Aroma lemak yang digunakan akan lebih kuat untuk style ini.

•             Ningbo-style mooncake: lebih khusus di provinsi Zhejiang, rasa lebih cenderung ke asin dan spicy.

•             Yunnan-style mooncake: cenderung lebih manis.

Mooncake modern sekarang lebih banyak lagi variasinya, ada yang dari agar-agar, ada yang dari ketan/glutinous rice, ada yang isinya keju, chicken floss (abon ayam), tiramisu, bahkan ice cream, kopi dan lainnya.

Mooncake di Indonesia

Entah sejak kapan mooncake muncul di Indonesia. Saya rasa usianya sudah sama tuanya dengan usia imigran perantauan dari Tiongkok yang pertama datang ke Indonesia.

Di Semarang, kota kelahiran saya, mooncake yang paling populer adalah 2 jenis, yaitu Cantonese-style mooncake, yang banyak dibikin oleh restoran-restoran lama di Semarang, seperti Phien Thjwan Hiang, Pringgading, kemudian yang khusus memproduksi seperti Kiem Liong, dan Cap Bayi. Serta style dari Suzhou dan Tiociu yang kemudian diadaptasi namanya menjadi PIA.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pekerja memanggang bakpia di industri Bakpia 25, kawasan Pathuk, Ngampilan, Yogyakarta, Sabtu (7 /12/2013). Industri bakpia terus berkembang di kawasan itu dan menghadirkan lapangan pekerjaan bagi warga setempat serta pekerja dari sejumlah daerah.

Mooncake memang akhirnya diadaptasi namanya menjadi PIA, yang berasal dari dialek Hokkian dari ucapan Mandarin’nya “bing” (baca ping).

Segala jenis makanan seperti ini lalu dinamakan pia, termasuk bakpia pathok di Jogja, pia Kemuning di Semarang, Pia Cap Bayi, dan sebagainya.

Pia-pia di Indonesia ini mengadaptasi dari Suzhou dan Tiociu-sytle mooncake, dengan kulit yang lebih crispy dan flaky dan terlihat lapisan-lapisan yang membentuk kulit pia itu.

Awalnya, lapisan-lapisan pia itu memang diberi campuran lemak babi. Namun seiring tuntutan jaman dan masyarakat, kini ditemukan bahan-bahan pengganti yang bisa menciptakan efek lapis-lapis tadi tanpa menggunakan lemak babi.

Sekarang di Indonesia kue pia sudah bebas dari lemak babi, kecuali yang memang khusus diisi daging babi cincang, atau produk-produk turunan babi.

Pada waktu saya kecil, masa-masa sembahyangan tiong jiu pia (lafal lain lagi dari “zhong qiu yue bing”, baca: cung jiu yue ping, yang disingkat menghilangkan kata yue), merupakan masa-masa yang paling dinanti.

Kombinasi pia model Suzhou dan Tiociu style berjajar bersama di meja bersama dengan mooncake model Cantonese. Sungguh nikmat dan lezat menikmati bersama keluarga kami. Walaupun waktu itu masih jaman represif, tapi masih saja bisa merayakan Mooncake Festival ini di kalangan keluarga sendiri.

Kini keturunan dari kue bulan, yang walaupun berasal dari luar, sudah menyatu di Indonesia dan memperkaya khasanah budaya Indonesia.

Bila sekarang kita menjumpai makanan dengan embel-embel nama PIA, seperti bakpia yang menjadi oleh-oleh “wajib” dari Jogja, atau juga Pia Malang, maka kita tahu bahwa makanan itu berakar dari mooncake, alias ‘tiong jiu atau lidah orang Jawa menyebutnya ‘tong ju pia’.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/14/205512827/sejarah.mooncake.nenek.moyang.kue.pia.di.indonesia

Leave a Reply