Sensasi Musim Panas Beograd

KOTA Beograd meluncurkan sensasi musim panas. Dari Danau Ciganlija hingga tepian Sungai Sava, perempuan-perempuan berkulit putih dan tubuh berisi mengenakan kaus singlet berlalu-lalang.

Benteng tua Kelemegdan dan gereja ortodoks Saint Sava melengkapi paduan eksotisme itu dengan lanskap kultur yang pekat.

Liburan di Beograd, Serbia, akan terasa lengkap jika menghirup kedekatan persahabatan dua pemimpin Gerakan Non Blok Josip Broz Tito dan Soekarno di Museum Tito. Beograd dengan jumlah populasi 1,6 juta jiwa, terletak pada pertemuan antara Sungai Sava dan Danube, memiliki luas wilayah 359,96 kilometer persegi.

Menjajal wilayah luas dengan obyek wisata budaya beragam dan menakjubkan tentu membutuhkan waktu panjang. Beograd dikenal sebagai tempat lahir budaya prasejarah terbesar Eropa, yaitu kebudayaan Vin?a. Ini kota tua yang konon telah ada sebelum tahun masehi.

Karena itu, Duta Besar Indonesia untuk Serbia dan Montenegro James Harry Kandou yang menemani rombongan kami menawarkan sejumlah lokasi favorit turis agar waktu tiga hari di Beograd optimal untuk pelesir.

Suhu udara Beograd mencapai 32 derajat celsius di musim panas ketika kami berada di sana pertengahan Juli lalu. Dari Indonesia perjalanan ke Beograd sekitar 15 jam dengan sekali transit di Doha.

KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK Taman Gereja Ortodoks Saint Sava di Beograd.

Sejarah dan pesta

Beograd menjadi ibu kota Yugoslavia antara tahun 1918 hingga 2003. Serbia adalah bagian dari negara Yugoslavia yang kemudian pecah menjadi enam negara merdeka, yaitu Macedonia, Serbia, Montenegro, Bosnia-Herzegovina, dan Kroasia.

Tahun 1999, NATO mengebom Serbia dan bangunannya yang rusak masih terlihat di pusat kota Beograd. Bangunan rusak dengan reruntuhan batu bata di gedung bertingkat sengaja tidak diperbaiki. Dan, itu menjadi kenangan kota yang memang kerap terlibat konflik peperangan.

Dari balik kaca bus perjalanan dari Bandara Nikola Tesla ke penginapan di kawasan Bulevar Beograd, kami menyaksikan panorama indah Sungai Sava dan Danube yang membelah kota. Dua sungai itu adalah urat nadi bagi Eropa, menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar di ”Benua Biru” mulai dari Jerman, Romania, sampai Laut Hitam.

Setiap hari kapal pengangkut barang hilir mudik di sungai tersebut. Kapal wisatawan juga tak henti mengalir, menikmati pesona alam dari Eropa Tengah hingga kawasan Balkan.

Malam hari kapal-kapal menjadi tempat dugem mengapung. Musik mengentak dari tengah sungai dengan memancarkan lampu warna-warni. Mereka pun larut dalam pesta malam.

Sabtu malam waktu spesial untuk menyaksikan atmosfer pesta di mana-mana di kota Beograd. Hotel tempat kami menginap juga menggelar pesta wine. Gadis-gadis cantik Beograd di beranda hotel menawarkan wine dengan ramah.

Rambut mereka hitam bertubuh padat, bertinggi sedang mirip Ana Ivanovic, petenis dunia asal Serbia. Para tamu cukup memberi uang jaminan gelas 1.000 dinar Serbia atau Rp 150.000 untuk mencicipi belasan jenis wine Serbia.

KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK Jembatan Benteng tua Kelemegdan

Pesta adalah bagian dari kehidupan hidup masyarakat Beograd. Beberapa tahun lalu, Beograd masuk kota peringkat tertinggi di dunia sebagai tempat pesta oleh Lonely Planet.

Beograd adalah kota masa depan Eropa setelah kota itu memenangkan ”City of the Future” dalam kontes diadakan oleh The Economist/FDI Magazine. ”Beograd adalah Eropa sesungguhnya,” ujar James Kandou.

Benteng Kelemegdan

Mengunjungi Kelemegdan menjadi prioritas kunjungan kami di Beograd. Bangunan benteng tua itu tampak kokoh di selatan kota Beograd. Untuk masuk ke Kelemegdan setiap pengunjung dewasa membayar 100 dinar Serbia atau Rp 15.000, sedangkan anak-anak 80 dinar Serbia.

Kelemegdan adalah taman paling populer di kalangan warga di sana, konon dibangun abad ke-3 sebelum masehi oleh bangsa Celtic.

Pohon besar yang teduh dan jalan setapak di dalamnya, bangku-bangku di bawah pohon hingga air mancur yang indah serta patung-patung dengan arsitektur mammot bersejarah memberi kenyamanan pengunjung.

Sisi kanan Kelemegdan dijadikan kebun binatang yang dapat dinikmati para tamu.

Taman ini dikenal dengan nama Turki Kalemegdan berasal dari kata ”kale” artinya perang dan ”megdan” artinya medan atau tempat. Bagian tertua kota ini menempati wilayah menghadap titik temu Sungai Sava dan Danube. Di sana ada reruntuhan benteng kuno.

KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK Lorong benteng tua Kelemegdan di Beograd.

Ketika perut lapar kita dapat singgah sejenak di sebuah bangunan menjorok ke dalam yang beberapa waktu lalu diubah menjadi restoran. Di sana kami menikmati makanan khas Serbia, Pljeskavica, mirip hamburger, sekaligus menyaksikan panorama indah Sungai Danube dari kejauhan.

Besok harinya kami melanjutkan perjalanan ke Katedral Saint Sava adalah gereja Ortodoks terletak di wilayah Vra?ar Plateau, Beograd. Saint Sava, gereja ortodoks terbesar di dunia dapat menampung 10.000 umat sambil berdiri.

Bangunan gaya Eropa yang megah dengan sejumlah tiang dilapisi marmer dengan taman bunga yang luasnya hampir 1 hektar Saint Sava menjadi ikon kota Beograd. Keagungan Saint Sava disejajarkan Angkor Wat di Kamboja ataupun Candi Borobudur di Indonesia.

Makam Tito

Perjalanan dari Saint Sava menuju makam Josip Broz Tito sekitar 20 menit. Makam mantan presiden Yugoslavia disebut ”House of Flowers” terletak di Museum 25 May (museum revolusi) di kawasan Bulevar, Beograd, berjarak 100 meter dari Gedung Kedutaan Indonesia di Serbia.

Tito yang berasal etnis Kroasia adalah tokoh pemersatu Yugoslavia, meninggal 4 Mei 1980 pada usia 88 tahun. Prosesi pemakaman Tito dihadiri tamu dari 128 negara.

Taman bunga yang lapang dengan rumput hijau di kedua sisi jalan menuju ke lokasi makam menjadi daya tarik pengunjung. Di halaman depan kita dapat langsung melihat patung Tito mengenakan baju kebesaran perang dengan kepala tertunduk.

KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK Bagian depan Benteng tua Kelemegdan di Beograd.

Dalam gedung lokasi makam Tito dapat disaksikan koleksi ratusan hadiah dari rakyat saat perayaan ulang tahun sang presiden pada 7 Mei. Hadiah dari rakyat beragam dan bervariasi dalam bentuk kerajinan tangan.

Di Museum 25 May berada di sisi kiri makam Tito, dapat disaksikan koleksi hadiah kepala negara dan raja dari belahan dunia untuk Tito.

Presiden Indonesia Soekarno memberi hadiah cukup banyak kepada Tito, mulai dari keris, patung garuda hingga sendok dan garpu terbuat dari perak sebanyak 180 buah. Sendok dan garpu dari perak Yogyakarta dibawa sendiri oleh Soekarno saat berkunjung ke Beograd tahun 1956.

Tak hanya hadiah dari Soekarno, Jenderal Abdul Haris Nasution juga pernah memberi hadiah Mandau asal Kalimantan kepada Tito.

Tito dan Soekarno dua tokoh penting dunia di era perang dunia Barat-Timur yang mengambil jalan tengah mendirikan Gerakan Non Blok bersama Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), dan Kwame Nkrumah (Ghana).

Romantisme pertemanan Soekarno dan Tito dapat dilihat dalam hubungan surat menyurat selama 10 tahun. Tak jarang Soekarno membalas surat Tito dengan tulisan tangan indah. Dokumentasi surat menyurat lebih belasan kali disimpan dengan rapi di Badan Arsip Yugoslavia.

KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK Lukisan di langit gedung gereja Saint Sava, Beograd, setinggi 70 meter.

Hubungan mesra Soekarno dan Tito itu menjadikan Indonesia sangat dikenal di Serbia. Kepala Badan Arsip Yugoslavia Miladin Milosevic saat menerima rombongan kami bersama Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey di kantornya, Vase Pelagica, Beograd menyebut Indonesia adalah saudara dekat.

Milosevic menyebut Soekarno berkali-kali mengunjungi Beograd dekade tahun 1956 hingga pelaksanaan KTT Non blok tahun 1961. Surat-surat Soekarno dan Tito cukup banyak.

Kedekatan hubungan itu menjadikan Indonesia mendapat keistimewaan lahan ketika membangun kantor Kedutaan Besar di Beograd. Kantor Kedubes RI terletak di jalan protokol Bulevar Kneza Aleksandra, sekitar 100 meter dari makam Tito. (Jean Rizal Layuck)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 September 2016, di halaman 23 dengan judul “Sensasi Musim Panas Beograd”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/14/081200927/sensasi.musim.panas.beograd

Leave a Reply