Ternyata Ini Sejarah Pasar Sentiling Di Festival Kota Lama Semarang

SEMARANG, KOMPAS.com - Di balik kebangkitan Kota Lama Semarang yang kini sering digembor-gemborkan ternyata memiliki banyak sejarah di masa kejayaannya. Salah satu momennya yang digunakan saat ini menjadi nama salah satu acara terbesarnya yaitu Sentiling Night Market atau Pasar Malam Sentiling.

Tahun ini Pasar Malam Sentiling 2016 kembali digelar tepatnya tanggal 16 hingga 18 September 2016.

Nama Sentiling Night Market sebenarnya baru familiar diguakan mulai tahun 2014, meski acara tersebut sudah dihelat sejak 2012 dengan kemasan Festival Kota Lama Semarang.

Saat itu tema Festival Kota Lama 2014 adalah Merayakan Semarang, yang sekaligus untuk memperingati sebuah perhelatan akbar di era kolonial Belanda bernama Koloniale Tentoonstelling.

Tahun 2014 itu tepat 100 tahun pemerintahan Hindia Belanda mengadakan Tentoonstelling, di Kota Semarang, Jawa Tengah. Perhelatan akbar yang digelar pertama tahun 1914 tersebut merupakan pameran berskala Internasional terbesar pada tahunnya yang diikuti oleh beberapa negara seperti China, Australia, dan negara besar lainnya.

Dalam acara ini diadakan juga pertandingan sepak bola internasional yang pertama, sehingga pameran ini menjadi bagian penting dari sejarah persepakbolaan Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika dengan adanya Tentoonstelling ini telah menjadikan kota Semarang menjadi mendunia.

Oen’s Semarang Foundation Keramaian Pasar Malam Sentiling Festival Kota Lama Semarang tahun 2014 lalu.

Koloniale Tentoonstelling, oleh penduduk pribumi saat itu disebut Pasar Malam Sentiling. Momen itu menjadi salah satu bukti bahwa Semarang pernah menjadi kota yang penting pada masa kepemimpinan Hindia Belanda.

Jongkie Tio salah satu sejarawan Semarang dalam bukunya, “Kota Semarang Dalam Kenangan”, menulis, Tentoonstelling atau pameran itu diadakan di lahan seluas 26 hektar dari Randusari hingga kaki Bukit Candi, dan juga di Pieter Sythofflaan (kini Jalan Pandanaran).

Pameran tersebut diikuti sejumlah negara, seperti Jepang, China, Australia, beberapa negara Eropa dan Asia, serta negara jajahan Belanda. Terdapat paling tidak 200 bangunan besar dan kecil dalam pameran yang berlangsung sejak 20 Agustus hingga 22 November 1914.

Pameran tersebut sebenarnya diadakan Belanda untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Kerajaan Belanda dari kekuasaan Perancis. Belanda ingin menunjukkan pencapaiannya atas daerah-daerah jajahannya. Ajang itu mirip dengan konsep MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di masa kini.

“Dari perayaan zaman Belanda itulah kini diadakanlah kegiatan serupa untuk kembali mengenang acara tersebut,” ujar Jenny, Ketua Penyelenggara Pasar Sentiling 2016 dalam rilisnya pada KompasTravel, Kamis (15/9/2016).

*****

KompasTravel kembali menghadirkan kuis “Take Me Anywhere 2”. Pemenang akan mendapatkan kesempatan liburan gratis yang seru ke Yogyakarta selama tiga hari dua malam.

Hadiah sudah termasuk tiket pesawat, transportasi lokal, hotel, konsumsi, dan beragam aktivitas seru selama di Yogyakarta. Juga raih kesempatan memenangkan hadiah smartphone. Klik link berikut: Mau Liburan Gratis di Yogyakarta? Ikuti Kuis “Take Me Anywhere 2”

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/17/121000227/ternyata.ini.sejarah.pasar.sentiling.di.festival.kota.lama.semarang

Leave a Reply