Tinutuan, Kala Beraneka Rasa Gurih Sayur Beradu Di Lidah

MANADO, KOMPAS.com – Mengunjungi Manado atau Minahasa di Sulawesi Utara, tidaklah lengkap jika belum mencicip kuliner khas daerah ini. Tinutuan atau Bubur Manado, orang menyebutnya.

Jangan khawatir, kuliner yang satu ini dijamin halal, karena terbuat dari berbagai sayuran hijau yang dipadukan dengan bubur beras, labu dan ubi. Walau sewaktu disajikan terlihat berantakan, namun Tinutuan merupakan masakan yang lezat.

Jika berada di Manado, Pusat Kuliner Wakeke merupakan tempat yang sangat ideal untuk mencicipi Tinutuan. Di lokasi yang berada di pusat kota ini, puluhan rumah makan menawarkan kelezatan Tinutuan dengan aneka variasinya.

Di Wakeke, cecap lidah terhadap gurihnya berbagai sayur hijau di Tinutuan bersanding dengan mie, tahu goreng, tempe goreng, bakwan bahkan perkedel jagung dan nike (sejenis ikan kecil). Tinutuan sangat pas jika disantap pada pagi hari sebagai menu sarapan.

Berbagai vitamin yang terkandung di dalamnya menjadi energi bagi aktifitas sepanjang hari. Ahli Gizi di Rumah sakit Siloam Manado, Femmy Feibe Monulandi AMG menjelaskan bahwa Tinutuan mengandung nilai gizi yang tinggi terutama karbohidrat yang terdapat di umbi-umbian.

“Sayurannya mengandung serat vitamin dan minereal serta serat yang baik untuk pencernaan. Bahkan vitamin di labu siam dapat mencegah jantung koroner,” jelas Femmy.

Tinutuan bisa dibilang tergolong makanan yang sehat karena makanan ini tidak mengandung daging. Tinutuan sangat pas disantap dengan dabu-dabu (sambal) ikan roa (ikan terbang), atau dabu-dabu bakasang (fermentasi perut ikan).

Bagi penyuka terasi, tinutuan juga cocok ditemani sambal terasi. Hingga kini belum diketahui persis asal mula Tinutuan, baik sejarahnya maupun asal muka katanya. Dari beberapa catatan, Tinutuan mulai diperdagangkan sejak tahun 1970.

Saking terkenalnya Tinutuan sebagai makanan yang berasal dari Manado, sewaktu Jimmy Rimba Rogi menjadi Walikota Manado periode 2005-2010, ia memberi slogan Manado sebagai Kota Tinutuan.

Tinutuan diduga merupakan bentuk kreativitas orang Minahasa dulu yang kondisi ekonomi para penduduknya sangat sulit saat di bawah penjajahan Belanda. Karena sulit mendapatkan makanan, penduduk waktu itu kemudian memanfaatkan bahan makanan yang mereka bisa peroleh dari pekarangan dan kebun. Bahan-bahan makanan itu seperti ubi, kangkung, jagung, daun gedi, bayam, serta labu.

Mereka lalu memasaknya dengan mencampurnya bersama nasi secara bersamaan. Kini ragam campuran Tinutuan sudah sangat bervariasi. Mengolah masakah Tinutuan juga tidak sulit. Hampir semua orang bisa memasak Tinutuan. Bahan-bahannya mudah didapat di pasar tradisional atau jika sendang berada di Minahasa bisa langsung membeli pada petani di kebun.

Tahun ini, Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara sedang mengusulkan Tinutuan menjadi salah satu warisan budaya tak benda dari Sulut.

“Sesuai dengan tugas kami, kami mencoba mengusulkan agar Tinutuan diakui sebagai warisan budaya tak benda dari Sulut. Selain Tinutuan, kami juga mengusulkan kesenian khas Nusa Utara, Masamper,” kata Kepala BPNB Sulut Rusli Manorek.

Jadi, jika Anda berencana melakukan perjalanan ke Manado, jangan sampai tidak mencecap Tinutuan. Masakan khas ini juga diakui sebagai masakan perekat persaudaraan, karena hadir di tiap kesempatan.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/28/191400427/tinutuan.kala.beraneka.rasa.gurih.sayur.beradu.di.lidah

Leave a Reply