Untuk Segelas Kopi, Bertamulah

DI belahan dunia mana pun, kopi begitu melekat dalam kehidupan manusia. Di Perancis, hari-hari tanpa kopi bagaikan hidup tanpa mereguk anggur.

Di Amerika Latin dan Eropa Selatan, tradisi minum kopi sangat membudaya. Warga rutin menikmati minuman itu pada pagi dan sore. Jenis espresso hitam pekat, aromatik yang paling digemari.

Tak kalah membudayanya di Arab Saudi. Masyarakat meletakkan etiket dan prosedur minum kopi yang tegas. Menyuguhkan kopi adalah bentuk penghormatan kepada tamu yang datang ke rumah.

Sebelum kopi diseduh, tuan rumah terlebih dulu membakar dupa dan rempah. Setelah aroma menyebar ke seluruh ruangan, barulah kopi siap diseduh. Tamu akan spontan menyatakan antusiasmenya atas minuman yang diberikan.

Sebagaimana besarnya minat dunia pada kopi, begitu pula di pelosok-pelosok dataran tinggi Pulau Flores. Cinta dan kopi bagai ikatan yang lekat mewarnai kehidupan masyarakat.

Sumber penghidupan bertambah semarak di atas ranumnya bulir buah kopi. Itulah jawaban atas ungkapan cinta masyarakat yang tercermin dalam keseharian.

Hutan bambu mengiringi langkah Kompas meninggalkan Kampung Adat Bena, Agustus lalu. Suasana pagi menuju perkebunan kopi Bajawa di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, terasa teduh.

Rumah-rumah adat berdinding kayu dan beratap ilalang masih sesekali terlihat sebelum akhirnya kendaraan menepi di depan halaman yang dipenuhi penjemuran biji kopi di Bajawa.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/15/172800727/untuk.segelas.kopi.bertamulah

Leave a Reply