Yang Sebaiknya Tak Lagi Terlewat Dari Cirebon…


KOMPAS.com –
Jakarta-Cirebon hanya terpaut jarak 214 kilometer, yang itu bisa ditempuh selama 3-5 jam menggunakan kendaraan pribadi. Dikenal sebagai salah satu Kota Wali, Cirebon juga punya banyak hal lain yang kerap terlewat para pelancong.

Jamak bila kota ini dianggap sebagai tujuan wisata religi. Itu tadi, ada wali yang pernah bermukim dan meninggalkan jejak di sini, yaitu Sunan Gunung Jati.

Namun, Cirebon juga dikenal karena sejumlah kuliner legendaris. Sebut saja empal gentong, nasi jamblang, dan docang. Makanan yang terakhir juga tak lepas dari sosok wali di sini.

Ada pula di Cirebon, kerajinan yang sudah go internasional. Inilah batik trusmi. Namanya berasal dari kawasan tempat kerajinan itu berasal dan berkembang.

Lalu, apa lagi yang masih mungkin terlewat dari kota ini kalau begitu?

Satu hal yang tak banyak orang tahu soal Cirebon adalah kaitannya dengan salah satu legenda seniman Indonesia, Affandi. Maestro seni lukis ini ternyata lahir di sini.

Affandi adalah pelukis Indonesia yang namanya dikenal hingga mancanegara. Almarhum menciptakan tak kurang dari 2.000 lukisan selama hidupnya.

KOMPAS/INGKI RINALDI Seorang perajin batik, Sabtu (7/12/2013), tengah melakukan proses menembok atau menutup pola yang bakal dibiarkan putih dengan menggunakan malam (lilin). Proses itu dilakukan pada selembar kain batik di Sanggar Batik Katura, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Namun, yang juga teramat jarang diketahui orang adalah kuliner bernama sate kalong. Apa pula ini?

Kalong dalam sejumlah bahasa daerah adalah nama binatang sejenis kelelawar yang hanya terbang pada malam hari. Namun, jangan khawatir, sate yang satu ini tak berbahan daging hewan itu.

Sate kalong merupakan sate berbahan daging kerbau. Nama “kalong” tersemat karena sate ini awalnya hanya dijual selepas matahari terbenam. Sama seperti kemunculan hewan itu, bukan?

Makin jarang

Bahan utama sate kalong adalah daging has dalam kerbau. Iya, kerbau.

Belum ada penelusuran sejarah yang pasti, tetapi penggunaan daging kerbau ini diduga punya kaitan dengan akulturasi budaya Islam dan Hindu di Cirebon.

Saat ini, sudah tak banyak pedagang sate kalong di Cirebon.

“Rumit pembuatannya,” kata Didi Gunadi, salah satu pedagang sate kalong yang masih bisa dijumpai di kota ini, Selasa (16/8/2016) malam.

Didi mengaku sebagai generasi ketiga pembuat dan penjual sate kalong.

“Dulu kakek jualan keliling. Kakek sudah berjualan sejak 1932. Saya meneruskan dari ayah saya, sejak 1995,” tutur Didi.

Kompas.com tak sengaja berkesempatan mampir di gerobak Didi, yang ada di Jl Pecinan. Berikut ini video dari sate kalong tersebut:Kompas Video Kuliner Malam Sate Kalong Cirebon

Tempat jualan Didi tak seberapa besar. Hanya satu gerobak dan meja panjang untuk makan lesehan di teras pertokoan jalan tersebut.

Satu porsi sate kalong berisi 20 tusuk sate. Namun, setiap dua tusuk sate ini saling melekat, disatukan oleh bumbu masaknya.

“Karena dagingnya tipis-tipis. Kalau benar-benar hanya satu tusuk sendiri-sendiri, terlalu kecil,” kata Didi.

Sebagai bumbu siramnya, sate kalong juga bukan sambal kacang atau kecap saja. Sate ini menggunakan bumbu siram campuran kacang dan oncom. Bagi Anda yang pernah mencicipi dendeng, ada rasa yang mirip dengannya pada sate ini.

“Setiap harinya saya bisa membuat 700 sate daging dan 300 tusuk otot. Seluruhnya selalu habis,” ungkap Didi.

Per porsi sate kalong dibanderol Rp 20.000. Jangan salah, sate ini sudah dikirim sampai Australia dan Belanda.

Didi memang melayani pesanan dan pengiriman selain berjualan di kawasan kuliner Cirebon tersebut. Untuk pengiriman ke luar kota bahkan luar negeri, bumbu siram akan dipisah.

Bahkan, cerita Didi, dia pernah berangkat ke Lampung lengkap bersama gerobaknya, untuk mengikuti semacam eksebisi kuliner.

Tanpa penyimpanan di lemari pendingin, sate kalong bisa bertahan hingga 3 hari. Kalau disimpan di lemari pendingin, sate ini tahan sampai dua pekan.

Pilihan yang juga jangan terlewat

Di Cirebon ada banyak tempat wisata yang dapat disambangi. Pilihannya dari tempat menyepi seperti Gua Sunyaragi hingga wisata religi yang teramat populer yaitu kompleks masjid dan makam Sunan Gunung Jati.

Namun, kota ini pun menyediakan bagi Anda yang hanya melintas atau sengaja berlibur bersama keluarga pilihan satu lokasi untuk beragam minat. Hotel, restoran, fasilitas relaksasi, dan pusat perbelanjaan di kompleks Cirebon Superblock (CSB) Mall adalah salah satunya.

Dokumentasi Swiss-Belhotel Cirebon Superblock Mall Cirebon.

Dibuka untuk umum pada 2011, kawasan ini tumbuh pesat menjadi semacam oase baru bagi warga dan tamu Cirebon. Rata-rata, 14.000 orang bertandang ke kompleks ini pada hari biasa dan melonjak menjadi 16.000 orang pada hari libur.

Sebelum Tol Cirebon-Palimanan dibuka, pengunjung ke kompleks ini rata-rata hanya 8.000 orang per hari. Tentu saja, tanpa ada daya pikat yang pas, kehadiran tol tersebut tak akan cukup mendatangkan tambahan pengunjung sebanyak itu ke CSB Mall.

CSB memang dibangun berdasarkan kebutuhan sebuah kota yang tumbuh. Selain pusat perbelanjaaan, CSB juga punya kawasan perkantoran dan fasilitas entertainment seperti kawasan kuliner, tempat spa, salon, dan refleksi.

Semakin menarik, karena di kompleks ini juga ada hotel bintang empat Swiss-Belhotel Cirebon. Tersedia beragam fasilitas yang dapat dinikmati, tak hanya oleh tamu yang menginap.

Di hotel ini ada Swiss Cafe Private Room dan Swiss Cafe, misalnya, selain kolam renang yang dapat dimanfaatkan juga oleh selain tamu menginap. Jangan terlewat, tersedia juga fasilitas pijat dan spa di sini.

Ada pula fasilitas seperti Ballroom, Pangrango Function Room, dan Papandayan Meeting Room, untuk keperluan hajatan dan pertemuan bisnis.

Total, ada 9 fasilitas pertemuan bisnis di Swiss Belhotel Cirebon. Untuk Ballroom, luas ruangan mencapai 1.344 meter persegi.

Adapun kelas kamar yang tersedia mulai dari deluxe, business suite, hingga president suite. Bahkan, Swiss Belhotel Cirebon punya kamar khusus untuk bulan madu pengantin baru, yaitu honeymoon suite.

Dok Swiss Belhotel Cirebon Deluxe Room Swiss Belhotel Cirebon

Semua pilihan kamar itu dapat dinikmati dengan harga mulai dari Rp 1.088.000 per malam.

Bagi para tamu yang menginap di hotel ini, semua fasilitas di kompleks CSB dapat dijangkau tanpa harus menumpang kendaraan atau berjalan jauh.

Pusat perbelanjaan—termasuk bioskop dan aneka tempat makan populer—tepat menempel di samping hotel, sementara fasilitas lain ada di deretan pertokoan di depan hotel—dalam satu kompleks yang sama.

CSB dan Swiss Belholtel Cirebon berlokasi di Jl Cipto Mangunkusumo, Cirebon. Dari stasiun Cirebon, pengunjung cukup berkendara sekitar 5 menit. Ingin berkelana ke seantero Cirebon pun, lokasi kompleks ini ada di jalan utama kota.

Catatan menarik, di kawasan ini kerap digelar acara-acara seni budaya tradisional. Modernitas yang dihadirkan dalam konsep kawasan ini tak lalu serta-merta meniadakan citra sejarah dan budaya yang lekat dengan kotanya.

Jadi pengin melancong lagi ke Cirebon?
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/30/213300827/yang.sebaiknya.tak.lagi.terlewat.dari.cirebon.

Leave a Reply