Yuk, Menikmati Keasrian Kampung Bambu Klatakan Borobudur…

MAGELANG, KOMPAS.com – Dunia mengakui jika Candi Borobudur memiliki keindahan yang luar biasa dari segi artsitekturnya. Maka tak heran jika jutaan wisatawan membanjiri candi yang dibangun sekitar tahun 800 masehi itu setiap tahun.

Namun tidak banyak dari wisatawan yang mengetahui bahwa sejatinya alam sekitar Candi Borobudur juga memiliki keindahan yang patut dikunjungi. Kampung Bambu Klatakan di Dusun Bojong, Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, adalah salah satunya.

Kampung yang berjarak sekitar lima kilometer dari Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) itu menawarkan kesejukan hutan bambu yang masih alami. Akses menuju kampung ini tidak lah sulit. Wisatawan bisa menggunakan mobil, sepeda motor, atau bisa juga dengan delman.

Namun untuk mencapai ke lokasi hutan bambu wisatawan bisa berjalan kaki melewati jalan setapak perkampungan Bojong dan perkebunan warga. Tiba lah di hutan bambu seluas 20 hektar yang rimbun dan sejuk.

Kawasan tersebut sudah ditata sedemikian rupa oleh warga sehingga terlihat bersih namun tetap terjaga keasliannya. Kursi-kursi bambu di beberapa sudut tersedia untuk beristirahat wisatawan.

KOMPAS.COM/IKA FITRIANA Wisatawan sedang ber-swa foto di sudut Kampung Bambu Klatakan, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (4/9/2016).

Di beberapa sudut terlihat sekelompok anak muda yang asyik swa foto (selfie) dengan latar rerimbunan pohon bambu nan hijau. Suasana semakin hangat dengan adanya para penjaja makanan tradisional yang khas bahkan makanan yang tidak ditemukan di tempat lain.

Sebut saja nasi jagung kluban (urap sayur), bubur sayur, jenang, lemper, singkong bumbu ingkung hingga minuman badeg (nira kelapa).

Suprih Prasetyo, Kepala Desa Wringinputih, mengatakan bahwa Kampung Bambu Klatakan ini merupakan salah satu destinasi wisata baru yang diinisiasi oleh warga dan didukung oleh PT. TWCB.

Lokasi ini sengaja memanfaatkan lahan hutan bambu milik warga yang sebelumnya biasa-biasa saja.

“Sebelumnya hanya hutan bambu biasa saja, warga hanya menebang bambu di sini untuk keperluan bangun rumah, pagar, atau lainnya. Tapi kemudian kami perbaiki, bersihkan, tata, sehingga jadi tempat yang bisa menarik wisatawan,” kata Suprih, di sela peresmian Kampung Bambu Klatakan, Bojong, Minggu (4/9/2016).

KOMPAS.COM/IKA FITRIANA Warga menjual makanan tradisional di Kampung Bambu Klatakan, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (4/9/2016).

Suprih menyebutkan, selain bisa menikmati keindahan hutan bambu, di kampung ini wisatawan juga bisa menikmati matahari terbenam (sunset), menyaksikan tempuran (pertemuan) tiga sungai Tangsi, Progo, dan Gending, ada rumah pohon serta hamparan lahan bisa di lalui dengan mobil offroad.

“Meski baru diresmikan tapi sudah banyak wisatawan yang datang kemari. Warga juga bersemangat membangun obyek wisata ini, karena harapan ke depan bisa menyokong perekonomian warga,” kata dia.

Wisata Edukasi dan Konservasi Pohon Bambu

Menurut Suprih, setiap wisatawan yang datang akan diminta untuk ikut menaman satu pohon bambu. Hal ini untuk mendukung pelestarian pohon bambu yang semakin minim setiap tahun.

Pujo Suwarno, Sekretaris Perusahaan PT. TWCB, mengemukakan bahwa Kampung Bambu Klatakan merupakan salah satu obyek wisata di luar Candi Borobudur yang berbasis alam, edukasi sekaligus konservasi pohon bambu.

“Jadi wisatawan tidak sekadar berwisata akan tetapi juga belajar banyak hal tentang alam, seni, budaya, serta konservasi bambu,” katanya.

KOMPAS.COM/IKA FITRIANA Wisatawan menikmati minuman tradisional badeg atau nira kepala di Kampung Bambu Klatakan, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (4/9/2016).

Pujo menjelaskan, ada lebih dari 10 jenis bambu yang ada di Kampung Bambu Klatakan. Hutan bambu yang belakangan semakin tergusur dengan pemukiman ini merupakan daerah resapan air yang baik.

Pujo melanjutkan bahwa kampung ini menjadi salah satu dari 20 desa yang diproyeksikan menjadi desa pendukung obyek wisata Candi Borobudur. Target ke depan desa-desa tersebut menjadi magnet untuk meningkatkan angka kunjungan dan lama tinggal wisatawan di Borobudur.

“Jadi wisatawan tidak menumpuk di Candi Borobudur saja, mereka bisa menikmati desa-desa wisata sekitarnya dan diharapkan tinggal lebih lama di sini. Kami akan bangun balai ekonomi dan homestay-homestay untuk mendukung hal itu,” kata Pujo Suwarno.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/05/072200827/Yuk.Menikmati.Keasrian.Kampung.Bambu.Klatakan.Borobudur.

Leave a Reply